Kisah Ryan
Motivasi
The End of The Story in 2013
Selasa, Desember 31, 2013
‘Cause we are never ends on December.’ Begitu kata yang ku
dengar saat mendengarkan radio melalui telepon genggam kesayanganku. Aku
tersenyum. Seolah ada yang bisa abadi.
Pohon-pohon yang menjulang tinggi tertiup angin bergemerisik
menjelang malam. Malam itu tepat 23 Desember 2013. Sinar matahari kini telah
pergi dan lama kembali. Aku benci melihat ia pergi. Perpisahan yang setiap hari
terjadi sangatlah indah tak terlupakan. Dengan cara dan suasana yang selalu
berbeda. Ia telah tenggelam di Barat sana.
Udara dingin membalut tubuhku. Kuangkat wajahku manatap
langit. Mataku mulai mencari-cari sebutir bintang dan mulai merangkai kata-kata.
Kunikmati secangkir kopi yang dengan tenang menunggu akan kuminum.
‘Desember kali ini indah sekali. Sebentar lagi akan ada
tahun dengan wajah baru.’ Bathinku yang saat itu pikiranku membayangkan hal-hal
yang telah aku lewati selama ini. Tahun ini rasanya tahun yang paling sempurna
bagiku. Tiada tahun yang paling indah
selain 2013. Two thousand and thirteen is year of my life. Semua hal telah aku
lalui disini. Mulai dari keterpurukan, kesedihan yang sangat mendalam sampai kebahagiaan
yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku pernah mengatakan pada salah satu sahabatku, ‘ Aku ini
mati rasa.’ Begitulah. Smile outside crying inside. Aku tidak bisa
mengekspresikan, mendiskipsikan suatu hal yang sedang aku rasakan saat itu. Entahlah, belum ada
satupun yang dapat membuat hatiku tersentuh. Setiap kebaikan mereka, senyuman mereka
ataupun hubungan yang sudah terlanjur
dijalin belum mampu membuat hati dan pikiranku menerima sesuatu yang
berarti bagiku. Hingga akhirnya aku tersadar bahwa selama ini mataku tertutup.
Tahun ini adalah tahun yang paling sempurna bagiku. Ada banyak hal yang telah
aku lalui di tahun ini. Mulai dari cerita keluarga, kesibukanku, pertemanan dan
hubungan sosialku dengan yang lain.
Pertama aku ingin menceritakan masalah ku dengan keluargaku.
Setelah lebih dari 6 bulan lamanya saat aku pergi melanjutkan pendidikanku di
negeri orang. Aku pernah dan hampir lost contact dengan mereka. Kesibukanku
dengan perkuliahanku, pertemananku, relasiku memutuskan hubungan aku dengan
keluargaku. Sedih. Inilah tantangan terbesar dalam hidupku. Aku memiliki keluarga.
Bahkan keluarga besar. Tapi aku [bukan maksud untuk] tidak menganggap mereka
atau bahkan melupakan mereka. Aku menghubungi mereka saat aku sudah tidak punya
apa apa lagi atau kata kasarnya adalah ‘ I come when I need.’ Bukan. Bukan itu
maksudku memperlakukan mereka seperti itu. Mereka itu keluargaku. Sampai kakak perempuanku mengatakan hal itu secara tidak langsung padaku. Saat itu rasanya
seperti jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Tapi sebenarnya aku dalam keadaan
berdiri. Jadi, aku menceritakan hal ini pada salah satu temanku.
Kakak senior yang baik padaku. Resmi Humaira
namanya. yang bisa sedikit membuka mataku mengatakan bahwa,
‘ Walaupun kita sedang berjauhan, tetapi komunikasi haruslah tetap dipertahankan.’
Begitu
katanya saat menikmati pisang coklat kesukaannya. Komunikasi adalah jembatan
penghubung antara aku dan keluargaku. Dan aku sendiri yang harus membangun
jembatan itu untuk sampai kepada keluargaku.
Perlahan-lahan, aku mulai membangun jembatan itu. Dari
percakapan yang paling singkat, yang tidak penting, yang membuang waktu, dan
yang sampai mengabaikan kesibukanku, semuanya. And finally, I did it. Aku
berhasil. Aku membangun jembatan indah itu.
Aku melewatinya dengan segala kerja kerasku dan bantuan dari Tuhan tentunya. Dan akhirnya aku sampai kepada keluargaku.
Semua memang indah pada waktunya.
Aku senang. Aku bahagia. Aku kembali pada mereka. Mereka itu
keluargaku. Keluarga besarku. Ada hadiah kecil dari Tuhan yang sangat berarti
besar bagiku. Aku memiliki kakak laki-laki. Romi Antonio namanya. Sedari aku
kecil hingga sebelum menjelang Eid Mubarak 1434 H kemarin aku tidak pernah
akrab dengannya. Aku tidak pernah bergaul padanya. Aku bahkan merasa tidak pernah
memilikinya. Tapi, Tuhan akhirnya ‘bercampur tangan’ dengan segenap hambaNya
yang penuh dengan dosa-dosa ini.
Sekarang aku mulai dekat dengannya. Aku adalah teman barunya. Aku adalah
adiknya yang tampan dengan selembar senyuman yang melekat di wajah manisnya.
Yang setiap kali kau tanya siapa namanya dia menjawab,’ Aku Ryan Hidayat.’
Perkuliahanku terkadang mulus terkadang buntu. Ingat tidak
filosofi jalan? Jika kau telah menentukan tujuan yang jelas. Kau akan mudah
menentukan jalan apa yang akan kau lalui. Terkadang ada jalan pintas. Tapi
tergantung seperti apa jalan yang akan kau lalui. Apakah jalan itu mulus atau
jalan itu buntu. Dua semester terakhir aku mendapatkan IPK yang standar-standar
saja. Tapi aku tetap mensyukurinya. Aku mendapatkannya sesuai dengan kerja
kerasku. Tapi kali ini sungguh aku ingin mendapatkan lebih dari itu. Aku sangat
ingin. Sebentar lagi, setelah tahun baru dengan wajah baru, kampus akan
mengadakan UAS. Aku akan memaksimalkan usahaku. Do’akan aku, tulus dari lubuk
hatimu. Aamiin
Hubungan sosialisasiku awalnya berjalan seperti embun yang
sangat berhati-hati menuruni bukit dan lenyap di sinar mentari. Awalnya tidak seindah yang aku rasa
sebelumnya. Aku bahkan pernah memutuskan untuk tidak menjalin hubungan
pertemanan dengan siapapun. SIAPAPUN.
Aneh, aku punya beberapa temen –sekarang tidak- yang dalam
ingatanku hanya ada keburukan mereka. Jadi, setiap –tidak sengaja- mengingat mereka yang aku ingat hanya dari
sisi negatifnya saja. Bukan mencoba untuk berfikiran negatif pada mereka. Tapi ya
selama ini, begitulah perlakuan mereka padaku. Aku tidak bisa mendeskripsikan
semua hal disini. Tapi aku bersyukur Tuhan telah memberikan sedikit waktunya
untuk memberi pelajaran berarti yang dapat di petik disana. Ada banyak hal.
‘ People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.’
Pelajaran yang selalu membuat aku harus
berusaha semaksimal mungkin untuk terus berinteraksi kepada yang lain. awalnya
sulit bagiku untuk memulai. Tapi tiada usaha yang tidak dihargai. Angelique Maria Cuaca adalah salah satu tokoh besar untukku, dalam hidupku. Dia sebagai motivasiku. Yang
mampu menyadarkan aku akan semua hal yang sebelumnya tidak aku ketahui.
Begitu katanya. Awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya. Aku mencoba berfikir. Mencoba memahami. Dengan logikaku. Sekarang aku baru sadar bahwa ada kata yang tak perlu diucapkan. Tapi cobalah untuk mengerti dan ada usaha yang tak perlu dilakukan. Tapi cobalah untuk menghargai. Terima kasih banyak kak like [begitu panggilan akrabnya]. Oh, aku hampir lupa. Dia pernah mengingatkanku satu hal,
‘ Cara untuk dihormati adalah jangan pernah berpikir untuk dihormati. Cara untuk di dengarkan adalah jangan pernah berpikir untuk di dengarkan.’
Begitu katanya. Awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya. Aku mencoba berfikir. Mencoba memahami. Dengan logikaku. Sekarang aku baru sadar bahwa ada kata yang tak perlu diucapkan. Tapi cobalah untuk mengerti dan ada usaha yang tak perlu dilakukan. Tapi cobalah untuk menghargai. Terima kasih banyak kak like [begitu panggilan akrabnya]. Oh, aku hampir lupa. Dia pernah mengingatkanku satu hal,
‘ Teruslah berproses, Ryan. Sehingga nanti Ryan akan tahu kenapa Ryan harus menjadi seorang pemimpin nantinya.’
0 comment(s)