The End of The Story in 2013

‘Cause we are never ends on December.’ Begitu kata yang ku dengar saat mendengarkan radio melalui telepon genggam kesayanganku. Aku ter...

‘Cause we are never ends on December.’ Begitu kata yang ku dengar saat mendengarkan radio melalui telepon genggam kesayanganku. Aku tersenyum. Seolah ada yang bisa abadi.

Pohon-pohon yang menjulang tinggi tertiup angin bergemerisik menjelang malam. Malam itu tepat 23 Desember 2013. Sinar matahari kini telah pergi dan lama kembali. Aku benci melihat ia pergi. Perpisahan yang setiap hari terjadi sangatlah indah tak terlupakan. Dengan cara dan suasana yang selalu berbeda. Ia telah tenggelam di Barat sana.

Udara dingin membalut tubuhku. Kuangkat wajahku manatap langit. Mataku mulai mencari-cari sebutir bintang dan mulai merangkai kata-kata. Kunikmati secangkir kopi yang dengan tenang menunggu  akan kuminum.

‘Desember kali ini indah sekali. Sebentar lagi akan ada tahun dengan wajah baru.’ Bathinku yang saat itu pikiranku membayangkan hal-hal yang telah aku lewati selama ini. Tahun ini rasanya tahun yang paling sempurna bagiku.  Tiada tahun yang paling indah selain 2013. Two thousand and thirteen is year of my life. Semua hal telah aku lalui disini. Mulai dari keterpurukan, kesedihan yang sangat mendalam sampai kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Aku pernah mengatakan pada salah satu sahabatku, ‘ Aku ini mati rasa.’ Begitulah. Smile outside crying inside. Aku tidak bisa mengekspresikan, mendiskipsikan suatu hal yang sedang aku rasakan saat itu. Entahlah, belum ada satupun yang dapat membuat hatiku tersentuh. Setiap kebaikan mereka, senyuman mereka ataupun hubungan yang sudah terlanjur  dijalin belum mampu membuat hati dan pikiranku menerima sesuatu yang berarti bagiku. Hingga akhirnya aku tersadar bahwa selama ini mataku tertutup. Tahun ini adalah tahun yang paling sempurna bagiku. Ada banyak hal yang telah aku lalui di tahun ini. Mulai dari cerita keluarga, kesibukanku, pertemanan dan hubungan sosialku dengan yang lain.

Pertama aku ingin menceritakan masalah ku dengan keluargaku. Setelah lebih dari 6 bulan lamanya saat aku pergi melanjutkan pendidikanku di negeri orang. Aku pernah dan hampir lost contact dengan mereka. Kesibukanku dengan perkuliahanku, pertemananku, relasiku memutuskan hubungan aku dengan keluargaku. Sedih. Inilah tantangan terbesar dalam hidupku. Aku memiliki keluarga. Bahkan keluarga besar. Tapi aku [bukan maksud untuk] tidak menganggap mereka atau bahkan melupakan mereka. Aku menghubungi mereka saat aku sudah tidak punya apa apa lagi atau kata kasarnya adalah ‘ I come when I need.’ Bukan. Bukan itu maksudku memperlakukan mereka seperti itu. Mereka itu keluargaku. Sampai kakak perempuanku mengatakan hal itu secara tidak langsung padaku. Saat itu rasanya seperti jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Tapi sebenarnya aku dalam keadaan berdiri. Jadi, aku menceritakan hal ini pada salah satu temanku. Kakak senior yang baik padaku. Resmi Humaira
namanya. yang bisa sedikit membuka mataku mengatakan bahwa, 
‘ Walaupun kita sedang berjauhan, tetapi komunikasi haruslah tetap dipertahankan.’

Begitu katanya saat menikmati pisang coklat kesukaannya. Komunikasi adalah jembatan penghubung antara aku dan keluargaku. Dan aku sendiri yang harus membangun jembatan itu untuk sampai kepada keluargaku. 

Perlahan-lahan, aku mulai membangun jembatan itu. Dari percakapan yang paling singkat, yang tidak penting, yang membuang waktu, dan yang sampai mengabaikan kesibukanku, semuanya. And finally, I did it. Aku berhasil. Aku membangun jembatan indah itu.  Aku melewatinya dengan segala kerja kerasku dan bantuan dari  Tuhan tentunya.  Dan akhirnya aku sampai kepada keluargaku. Semua memang indah pada waktunya.

Aku senang. Aku bahagia. Aku kembali pada mereka. Mereka itu keluargaku. Keluarga besarku. Ada hadiah kecil dari Tuhan yang sangat berarti besar bagiku. Aku memiliki kakak laki-laki. Romi Antonio namanya. Sedari aku kecil hingga sebelum menjelang Eid Mubarak 1434 H kemarin aku tidak pernah akrab dengannya. Aku tidak pernah bergaul padanya. Aku bahkan merasa tidak pernah memilikinya. Tapi, Tuhan akhirnya ‘bercampur tangan’ dengan segenap hambaNya yang penuh dengan dosa-dosa ini.  Sekarang aku mulai dekat dengannya. Aku adalah teman barunya. Aku adalah adiknya yang tampan dengan selembar senyuman yang melekat di wajah manisnya. Yang setiap kali kau tanya siapa namanya dia menjawab,’ Aku Ryan Hidayat.’

Perkuliahanku terkadang mulus terkadang buntu. Ingat tidak filosofi jalan? Jika kau telah menentukan tujuan yang jelas. Kau akan mudah menentukan jalan apa yang akan kau lalui. Terkadang ada jalan pintas. Tapi tergantung seperti apa jalan yang akan kau lalui. Apakah jalan itu mulus atau jalan itu buntu. Dua semester terakhir aku mendapatkan IPK yang standar-standar saja. Tapi aku tetap mensyukurinya. Aku mendapatkannya sesuai dengan kerja kerasku. Tapi kali ini sungguh aku ingin mendapatkan lebih dari itu. Aku sangat ingin. Sebentar lagi, setelah tahun baru dengan wajah baru, kampus akan mengadakan UAS. Aku akan memaksimalkan usahaku. Do’akan aku, tulus dari lubuk hatimu. Aamiin 

Hubungan sosialisasiku awalnya berjalan seperti embun yang sangat berhati-hati menuruni bukit dan lenyap di sinar mentari.  Awalnya tidak seindah yang aku rasa sebelumnya. Aku bahkan pernah memutuskan untuk tidak menjalin hubungan pertemanan dengan siapapun. SIAPAPUN. 

Aneh, aku punya beberapa temen –sekarang tidak- yang dalam ingatanku hanya ada keburukan mereka. Jadi, setiap –tidak sengaja-  mengingat mereka yang aku ingat hanya dari sisi negatifnya saja. Bukan mencoba untuk berfikiran negatif pada mereka. Tapi ya selama ini, begitulah perlakuan mereka padaku. Aku tidak bisa mendeskripsikan semua hal disini. Tapi aku bersyukur Tuhan telah memberikan sedikit waktunya untuk memberi pelajaran berarti yang dapat di petik disana. Ada banyak hal.
‘ People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.’

Pelajaran yang selalu membuat aku harus berusaha semaksimal mungkin untuk terus berinteraksi kepada yang lain. awalnya sulit bagiku untuk memulai. Tapi tiada usaha yang tidak dihargai. Angelique Maria Cuaca adalah salah satu tokoh besar untukku, dalam hidupku. Dia sebagai motivasiku. Yang mampu menyadarkan aku akan semua hal yang sebelumnya tidak aku ketahui. 
‘ Cara untuk dihormati adalah jangan pernah berpikir untuk dihormati. Cara untuk di dengarkan adalah jangan pernah berpikir untuk di dengarkan.’

Begitu katanya. Awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya. Aku mencoba berfikir. Mencoba memahami. Dengan logikaku. Sekarang aku baru sadar bahwa ada kata yang tak perlu diucapkan. Tapi cobalah untuk mengerti dan ada usaha yang tak perlu dilakukan. Tapi cobalah untuk menghargai. Terima kasih banyak kak like [begitu panggilan akrabnya]. Oh, aku hampir lupa. Dia pernah mengingatkanku satu hal,
‘ Teruslah berproses, Ryan. Sehingga nanti Ryan akan tahu kenapa Ryan harus menjadi seorang pemimpin nantinya.’

You Might Also Like

0 comment(s)