Pendangkalan Makna Hari Ibu di Indonesia

Peringatan hari ibu setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya, tanpa kita sadari, berlangsung tanpa kita memahami apa latar belaka...




Peringatan hari ibu setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya, tanpa kita sadari, berlangsung tanpa kita memahami apa latar belakang historis dan juga makna sejati yang ingin disampaikan pada peringatan hari tesebut. Konteks modernisasi telah mengubah eksistensi Hari Ibu hanya sebagai motherhood worshiping (pemujaan sosok ibu) yang diisi dengan pemberian kado, bunga, makan-makan dan nada sebagian ritual dengan membebaskan para ibu dari rutinitas tugas-tugasnya. Tanpa bermaksud melecehkan semangat dan mengorbanan ibu, namun sejatinya ada dua hal yang luput dari pemahaman kita selama ini mengenai mengapa hari ibu itu ada.

Pertama (barangkali ini yang paling penting untuk dipahami umat beragama), peringatan Hari Ibu bermula dari ritual-ritual paganisme (penyembah berhala dan dewa-dewi). Disebagian besar Benua Eropa, Mother’s Day ditujukan sebagai penghormatan terhadap Dewi Rhea, istri Dewa Kronus dan ibu para dewa dalam sejarah atau mitologi Yunani Kuno.

Peringatan ini terus diadopsi dalam berbagai konteks, termasuk menyusup dalam ritual-ritual gerejawi di Inggris pada tahun 1600-an, dimana mereka mennamakannya sebagai Mothering Sunday. Pada hari itu, orang-orang Kristen akan berhenti memakan makanan dan minuman tertentu. Namun, oleh karena tercampur dengan ritual gerejawi, pemujaan terhadap Dewi Rhea bergant menjadi pemujaan terhadap Bunda Maria, yang dalam keyakinan kristiani merupakan ibu dari Tuhan Yesus. Dalam perkembangannya kemudian, tradisi ini menular hampir ke seluruh dunia sebagai penghormatan terhadap Mother Church, yang dianggap sebagai kuasa spiritual yang memberikan manusia kehidupan dan memelihara manusia dari keterpurukan.

Di Amerika sendiri, pengadopsian Mother Day atau Mothers Church ala pagan dan gereja, dimodifikasi dengan menyesuaikan kondisi pada saat itu, dimana oleh pionirnya, Julia Ward Howe ada tahun 1870, peringatan tersebut dicanangkan untuk mempersatukan perempuan menghentikan perang saudara yang berkecamuk debat merenggut nyawa para suami dan anak laki-laki mereka dengan sia-sia. Kampanye Hari Ibu sendiri mulai disosialisaikan oleh Anna Jarvis pada tahun 1907 di Amerika Serikat. Ia berhasil mempengaruhi para petinggi Negara, pengusaha dan politisi sehingga oleh presiden Woodrow Wilson pada tahun 1914 diperingati Hari Ibu resmi setiap hari Minggu kedua dalam bulan Mei setiap tahun.

Kedua, terkait dengan konteks keindonesiaan kita. Inspirasi Hari Ibu berawal dari kongres Perempuan Indonesia tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Namun demikian, penetapan Hari Ibu sendiri baru diputuskan dalam kongres Perempuan Indonesia III di tahun 1938, yang mendapatkan legalisasi oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No.316 tahun 1959. Semangatnya ketika itu lebih kepada penghargaan terhadap perempuan secara umum –tidak terbatas kepada Ibu semata. Yang diinginkan ketika itu adalah setiap Hari Ibu dikenang sebagai semangan dan perjuangan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa.

Dari latar belakang sejarah ddan filosofi yang melandasi peringatan Hari Ibu tersebut maka dapat disimpulkan setidaknya tiga filosofis yang menjadi semangat perayaan Hari Ibu. Pertama semangat paganism dengan mengagung-agungkan Dewi Rhea dari Yunani Kuno. Kedua, semangat gerejawi yang cenderung memuliakan Bunda Maria atau Ibu Gereja. Ketiga, semangat menghormati perjuangan kaum perempuan secara umum dalam konteks kebangsaan.
Mengapa kemudian Hari Ibu saat ini seolah didangkalkan/ direndahkan hanya seakan-akan sebagai pemujaan pada sosok ibu semata?

Inilah yang menjadi kekhawatiran. Penyesatan informasi, penyembunyian sejarh, ditambah dengan kemalasan kita untuk mencari tahu apa sesungguhnya di balik sebuah perisriwa, cenderung membuat masyarakat Indonesia menerima begitu saja semua yang berasal dari luar (asing). Jika berbicara dalam konteks agama Islam (mungkin juga agama lain), maka jelas perayaan Hari Ibu cukup beralasan untuk mengatakan ‘berbahaya’. Jelas karena ada latar belakang historis praktik berhala dalam sejarah dimulainya Hari Ibu di Eropa. Asimilasinya dengan ritual gerejawi berupa pemujaan terhadap Bunda Maria dan juga Mothers Church tentu bisa menjadi alasan mengapa bagi umat agama lain, perayaan Hari Ibu ini bisa ‘memerangkap’ umat (sadder atau tidak sadar) dalam acara ritual umat nasrani.

Dalam Konteks perjuangan perempuan, peringatan Hari Ibu seperti yang kita kenal sekarang, tentu bisa dikatakan sebagai pendangkalan terhadap peran dan semangat perjuangan perempuan secara umum. Tidak tebatas dalam peran domestic semata dalam rumah tangga sebagai istri sekaligus ibu.
Salah memangnya memberikan penghargaan pada ibu setahun sekali?

Tergantung pada Anda ingin melihat dari filosofis yang mana. Paganisme? Gerejawi? Atau semangat perjuangan perempuan? Hal yang saya pahami dalam konteks keislaman, tidak ada dosa bagi mereka yang belum mengetahui. Tetapi, jika seseorang telah mengetahui latar belakang sebuah peristiwa, itu menimbulkan kepastian bahwa itu adalah salah. Paling tidak, itu memberikan kerag-raguan dalam hati. Akan lebih baik jika itu ditinggalkan.

Bagaimana dengan Anda?

You Might Also Like

0 comment(s)