LAYU
Minggu, Februari 28, 2016
Hati ini, kau biarkan tumbuh sebentar lalu kemudian tak kau
sirami ia dengan air setidaknya sampai bunganya mekar.
Tega sekali kau, Pak Petani! Sudah jelas kau lihat ada tunas
yang tumbuh di pekarangan rumahmu. Kemarin kau siram tunas itu di pagi hari sebelum
matahari datang untuk memenuhi janjinya dan petang hari di saat senja pamit
untuk pulang. Tapi kini kau tinggalkan ia sendiri saat ia tak punya tempat
untuk mengadu. Saat ia punya harapan kini ia mulai meragu, apakah ia akan terus
tumbuh atau malah ia memutuskan untuk terus bersembunyi di dalam tanah yang
disekitarnya penuh batu.
Aku berharap saat itu
hujan turun untuk menjawab semua bayang-bayang masa depan yang kelabu.
Tega sekali kau, Pak Petani!
Pantas saja pelukan itu tiada rasa. Hanya sebatas dada ketemu
dada. Hanya itu. Padahal kemarin aku fikir raga itu tempatku berteduh selamanya. Tapi ternyata
tempat itu sudah ada pemiliknya. Yang jelas bukan aku.
Kenapa sekarang?
Kenapa tidak saat kau tahu ada tunas itu tumbuh dipekarangan
rumahmu, langsung saja kau cabut paksa sampai ke akarnya? Kenapa tidak langsung kau tebas saja pucuknya? Kenapa? Kenapa sekarang? Kenapa saat sudah mulai
tumbuh daunnya? Kenapa saat sudah mulai mekar bunganya?
Sudahlah. Kini hati ini sudah layu. Tak akan ada gunanya lagi
kau sirami ia dengan banyak air walaupun sampai habis kau kuras samudera itu.

0 comment(s)