#cintadiamdiam
#hujan
#memendamrasa
#perasaanyangmengalir
#temantapipunyarasa
Cinta Diam Diam
Minggu, Februari 12, 2017
Kita terbiasa duduk di bawah pohon dan makan roti dengan tomat dan minyak zaitun. Menaiki perahu kano di laut dan menunggu senja tiba. Berjalan di atas bukit saat musim gugur. Berbaring di rumput kering dan membicarakan tentang hujan dan air musim semi. Dan semua hal tadi membuat kita sangat dekat dan aku bahkan bisa memelukmu seerat itu. kita sudah melalui banyak hal. Kita sudah seringkali bertukar pikiran.
Kau mungkin tahu segalanya tentangku tapi ada satu hal yang tak pernah kau tahu. Mungkin karena aku tak pernah dan tak mau mengungkapkan atau mungkin juga karena aku tak berani dan tak mau menjelaskan meski perasaan yang dipendam seringkali meminta untuk dikeluarkan.
Ada hal yang tidak mampu terucap oleh kata saat kita berdua. Bukan karena kau terlalu menakutkan tapi karena aku yang terlalu penakut, takut kehilanganmu.
Kita adalah dua orang yang biasa menghabiskan waktu berjuta detik untuk bercakap. Kita selalu menceritakan segala hal, semua tentang dunia. Setiap kata akan berubah menjadi dialog yang menyenangkan karena menghabiskan waktu denganmu saja adalah istimewa bagiku. Dan akupun tetap ingin menjadi yang terus menerus kau ajak bercakap, walau nyatanya itu hanya ada dalam harap.
Kau hanya menganggap aku teman tapi bagiku kau adalah pujaan. Aku tak tahu kapan rasa ini tumbuh dan berakar. Awal yang semua biasa saja berubah menjadi asa yang kerap aku ceritakan pada senja. Mungkin karena kau selalu ada saat aku berkeluh kesah, mendekap segala resah dan lalu membuat aku jatuh cinta.
Aku tidak pernah meminta perasaan seperti ini. Aku tidak pernah berdoa kepada Tuhan agar perasaan ini tumbuh padaku. Dia datang begitu saja. Mengalir bersama keseharian kita. Tanpa sadar aku mulai berharap lebih kepada kedekatan ini.
Selama ini kita sudah bersama sejak lama. Lalu, bila akhirnya perasaan itu tumbuh, seharusnya itu adalah hal yang wajar saja.
Kau tetap tak menentu dan aku tetap tak lelah memupuk rindu. Kau mengapa begitu mempesona? Membuat aku tak ingin menghapus segala rasa. Membuat aku bertahan dari sakitnya kenyataan dan membuat aku rela patah hati hingga berkali-kali lagi. Kau si tuan peluluh lantak hati, apa semua perhatianku tak pernah kau sadari? Segala waktu yang kuhabiskan untuk menemanimu terjaga apakah tak berharga? Apa akan selamanya kau anggap aku teman biasa?
Aku tahu satu hal.
Namun itulah yang membuat semua ini menjadi manis. Biarlah semuanya berjalan dengan tenang. Anggap saja ini usaha melatih sabar. Sebab, semakin perasaan diumbar seringkali dia semakin cepat memudar. Aku memilih menikmatinya dengan sederhana. Berbicara denganmu seperlunya. Sebab, perasaan suka memang ada kadarnya.
Apakah semua rasa ini adalah salah? Aku yang terlalu terbawa perasaan atau kau yang tak punya perasaan? Saat aku sedang meyakinkan hatiku bahwa rasa ini adalah kesalahan, kau malah bertingkah menyebalkan, mengusap kepalaku dengan penuh kemesraan. kau itu menyebebalkan. Kau pikir aku tidak gamang saat kita tidak sengaja bersentuhan? Kau pikir gampang meredakan jantungku yang berdetak tak karuan? Aku bukannya tak ingin kau sentuh, aku hanya takut itu semua menjadi candu. Candu yang membuat aku menangis tersedu-sedu.
Tapi aku menikmati perasaan ini. Perasaan yang kubiarkan mengalir tenang. Aku memang sudah tidak mau menunjukan perasaan menggebu-gebu, sebab yang mengebu seringkali lebih cepat berlalu. Biarlah perasaan ini kunikmati pelan-pelan, semoga dia betah bertahan. Aku sungguh ingin menikmati semua ini lebih lama denganmu. Merasakan perasaan yang kadang membuat
pikiranku tidak menentu.
Saat aku memutuskan untuk memendam perasaan, aku secara sadar telah memutuskan semua resikonya meski terkadang lebih banyak perasaan bimbangnya.
Kau tetap tak menentu dan aku tetap tak lelah memupuk rindu. Kau mengapa begitu mempesona? Membuat aku tak ingin menghapus segala rasa. Membuat aku bertahan dari sakitnya kenyataan dan membuat aku rela patah hati hingga berkali-kali lagi. Kau si tuan peluluh lantak hati, apa semua perhatianku tak pernah kau sadari? Segala waktu yang kuhabiskan untuk menemanimu terjaga apakah tak berharga? Apa akan selamanya kau anggap aku teman biasa?
Sejak awal sudah kukatakan, aku penakut. Aku terlalu pengecut hingga membuat nyaliku mengkerut. Jika memang tak pernah ada aku disana, aku bisa apa? Aku sudah terlalu lelah menerka-nerka. Jadi biarlah semua menjadi biasa, dan aku tak mengapa harus merana. Biarkan saja hatiku terhujam berpuluh-puluh panah rindu. Tak mengapa, asal kita tetap bisa bertukar cerita. Dengan kau yang berucap penuh kata dan aku yang menatap penuh cinta.
Cinta, adalah perkara yang tak mampu aku ucap. Karena aku takut kau menghilang. Jadi biarkanlah aku patah hati sampai suatu saat nanti. Daripada aku harus tertatih jika harus kehilanganmu. Karena, telah kukatakan berkali-kali, aku terlalu penakut, takut kehilanganmu.
Aku tahu satu hal.
Memendam perasaan sama saja kau mengajak dirimu sendiri berperang. Sayangnya tidak akan ada yang menang dan kalah di antara kalian. Jika perasaan yang kau pendam bisa kau redam. Tetap saja kau akan tetap sendiri. Jika perasaan yang kau pendam mengalahkanmu, kau akan menjadi tidak karuan. Merasa tidak seimbang. Dan yang lebih parah lagi, kau akan menyadari: kau tetap saja sendiri. Memendam perasaan bukanlah kesalahan. Hanya saja kau juga harus pahami. Memendam perasaan seringkali menimbulkan penyesalan.
Namun itulah yang membuat semua ini menjadi manis. Biarlah semuanya berjalan dengan tenang. Anggap saja ini usaha melatih sabar. Sebab, semakin perasaan diumbar seringkali dia semakin cepat memudar. Aku memilih menikmatinya dengan sederhana. Berbicara denganmu seperlunya. Sebab, perasaan suka memang ada kadarnya.
11 Feb 2107
illustrations by: @naelaali, google. tumblr.
poems by: ryan hidayat & feby risa e.







0 comment(s)