Birthday
Kisah Ryan
BIRTHDAY HAVE AN OWN STORIES part II
Kamis, Mei 29, 2014
Kegalauan Yang Lama Di Waktu
Yang Singkat
Setiap hari,
saat malam menyelimuti, sulit sekali rasanya untuk menutup mata dan terlelap
tidur.Rasa takutku mengalahkan rasa kantukku.Aku merasa kehilangan gairah
hidup.Apa aku orang yang tidak bahagia?
Perlahan, aku terlempar ke alam mimpi.Mimpi?Aku tidak terlalu percaya dengan
mimpi sebenarnya. Tapi akhir-akhir ini, mimpi itu membuat aku bertanya seribu
kali apakah mimpi itu ada dan mempunyai arti khusus yang disampaikan untuk
menyatukan potongan pertanyaan masa depan yang belum tuntas?
Mimpi pertama.
Awalnya aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba
aku ada dalam ruang kurungan yang lumayan besar dan menyatu dengan ruang
kurungan lain seperti labirin yang terbuat dari besi. Aku lihat semua orang panik
mencari jalan keluar dari labirin itu.aku tidak kalah panik. Aku juga ikut
mencari jalan keluar dari labirin itu.aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika
seandainya aku tetap berada disana. Hingga akhirnya aku lolos dan tidak
merasakan apa-apa setelahnya.
Mimpi kedua.
Aku berada disebuah perkampungan.Dekat
dengan sungai yang bermuara ke laut.Aku turun dari mobil.Aku berjalan melihat
kiri kanan secara bergantian.Aku melihat cermin besar.Tapi aku tidak melihat
bayanganku.Aku heran dan aku tidak terlalu memikirkan hal itu.Jauh di depanku
ada seseorang yang sedang menaiki sebuah
perahu sampan.Aku mendekatinya dan aku bilang padanya bahwa aku ingin ikut
dengannya.Tapi dia menolak dan menyuruhku untuk mengganti pakaianku.Aku tidak
mengerti.Tapi saat kulihat, aku terkejut. Aku baru sadar ternyata aku memakai
baju longgar yang kumuh dan banyak sekali robekan di sana dan celana yang
longgar. Aku segera kembali ke mobilku.Sebenarnya aku juga tidak tahu mobil itu
darimana.Aku membuka bagasi belakang mobil ada banyak pakaian.Tak tahu kenapa
aku tahu ada banyak pakaian disana.Aku pakai saja.Aku kembali ke arah
sungai.Aku masih melihatnya disana dan aku berusaha naik ke atas perahu tapi
aku terjatuh.Dia melihatku.Tapi, dia tidak menolongku.Dan dia memutuskan untuk
terus mengayuh perahunya.
Mimpi itu,
apakah ada hubungan dengan hari
itu?Atau hari hari setelahnya?
Sebenarnya bukan itu saja yang membuat aku
merasa kehilangan yang entah apa orang lain menyebutnya dalam diriku.
Aku mengharapkan dia datang di saat hari ulang
tahunku.Salah satu, atau mungkin hanya dia sahabatku.Aku hanya ingin dia datang.Hanya itu.aku tidak
menginginkan yang lain. Hanya dia. Ya
Tuhan.Saat hari ulang tahunku, hanya dia
yang bisa menyelamatkan ‘hari’ itu, menyelamatkan kegalauan hati ini.
Keluargaku? Hari
ulang tahun tidak terlalu penting untuk mereka. Tapi jika ada kesempatan,
mereka akan merayakannya secara kekeluargaan. Perayaan yang sederhana untuk
momen yang sempurna.
******
Kurang lebih setahun yang lalu.
Sehari sebelum ulang tahunnya.Aku datang
tiba-tiba tanpa pemberitahuan.Aku ingin memberikan kejutan kecil untuknya.Dan
kedatanganku sekaligus kali pertama aku datang ke tempatnya.Aku sukses
memberikan kejutan itu.Dia bahagia
begitu juga dengan aku.
******
Aku sangat berharap dia
datang.Tapi aku terlalu takut untuk memintanya.Aku takut kalau seandainya
jawaban yang aku terima itu ‘tidak’.Aku takut jawaban itu membuat aku
terluka.Aku takut.Sangat takut.Tapi seandainya dia tidak
datang saat hari ulang tahunku jelas membuat suatu perubahan yang besar.Teramat
besar.
******
Kurang
lebih dua bulan dari hari ini.
Dia :kamu datang ya pas hari ulang
tahunku?
Aku :pasti dong
:)
“Kalau
ada hari libur, aku pasti akan datang.Tidak ada hari libur pun aku tetap akan
datang.”Kataku dalam hati.
Kali ini harus benar-benar spesial. Sebulan lebih lamanya aku memikirkan apa yang
akan aku beri padanya. Aku sungguh
sangat bingung waktu itu. Bahkan aku
sempat putus asa hanya memberikan bingkai foto kita berdua padanya. Spesial?
Aku rasa tidak.
Sehari sebelum ulang tahunnya.
Aku sudah mempersiapkan apa yang akan aku
berikan. Setidaknya kali ini aku harus membeitahukan kepadanya bahwa aku akan
datang. Kuputuskan untuk meneleponnya.
Dia : halo?
Aku : eh, lagi dimana?
Dia : on my way. Balik lagi nih.
Aku : ia? Lagi dimana nih?
Dia : masih dekat dari kota. Baru berangkat
soalnya.Kenapa?
Aku : besok aku libur. Aku mau datang ke tempat
kamu.Kamu sibuk nggak?
Dia : ia? Ya Tuhan. Aku sibuk nih besok. Aku sibukorganisasi.
Ada rapat bla bla bla
Ini dia hal yang paling aku benci darinya.Aku
tidak ingin mendengar alasan itu sebenarnya.Tapi terpaksa. Kalau aku tidak
mendengarnya, diaakan berhenti
bicara. Kesal.
Aku : serius nih? Nggak ada waktu?
Dia : ia. Maaf, ya? Kalo ada kan kamu
tahu, aku bakalan ngajak kamu keliling kota. Jalan-jalan.
Aku : ia sih. Jadi aku nggak datang ya pas hari
ulang tahunmu?
Dia :
(setengah berteriak) oh, ia. Besok aku ulang tahun ya?
Deg. Senjata makan tuan. Awalnya aku yang ingin memberikan kejutan itu. Tapi malah aku yang terkejut dibuatnya. Ternyata dia tidak ingat hari ulang
tahunnya.Kenapa harus aku yang mengingatkannya?Kenapa aku begitu bodoh sekali?
Mungkin.
Tuhan punya rencana lain. Perencanaan itu tidak berjalan sempurna seperti yang
diharapkan.Juga hari-hari setelahnya.
Aku punya hadiah yang terbilang
biasa. Tapi dari beberapa sisi itu sangat istimewa. Aku tidak perlu
menceritakan bagian itu disini. alasan privasi.
******
Ketika semuanya jelas.
Aku mencoba menemukan kembali motivasi dalam
diriku.Aku lebih banyak mendengar daripada biasanya.Mencoba memahami
sepenuhnya.Apa yang dicari selama ini adalah
“bahwa hidup harus menerima… penerimaan
yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar.Bahwa hidup harus
memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian,
pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan
menyakitkan.”
Kutipan itu menjadi sebuah penyemangat
hidup untukku.Sebuah pembelajaran yang sangat berharga.
Kali pertama hujan
turun di bulan Mei.
Aku mendengar kebisingin di atas
atap kamarku. Itu hujan. Aku segera berlari ke beranda depan rumahku. Aku dapat
mendengar suara hujan semakin deras. Kau tahu, saat hujan turun aku merasa
sangat nyaman. Aku merasa sangat damai. Senang. Bukankah kau juga pernah
mengalami hal seperti itu?
Saat hujan turun hari ini, kali
pertama hujan turun di bulan Mei, aku merasa lebih ringan. Beban yang beberapa
hari ini kupikul perlahan semakin ringan. Seperti seakan beban itu musnah saat
menyentuh tetesan-tetesan air hujan.
Sekarang aku sadar. Pikiran pun
terbuka lebar.
Dan tak perlu lagi aku berharap terlalu besar kepada
orang lain. Tak perlu lagi aku takut seandainya penolakan membuat aku
tersakiti.Aku tak harus sedih.Aku tak harus menyesal.Tapi satu hal yang
kuketahui, hidup harus terus berlanjut dalam bentuk apapun.
0 comment(s)