BIRTHDAY HAVE AN OWN STORIES part II

Kegalauan Yang Lama Di Waktu Yang Singkat Setiap hari, saat malam menyelimuti, sulit sekali rasanya untuk menutup mata dan terlelap...



Kegalauan Yang Lama Di Waktu Yang Singkat

Setiap hari, saat malam menyelimuti, sulit sekali rasanya untuk menutup mata dan terlelap tidur.Rasa takutku mengalahkan rasa kantukku.Aku merasa kehilangan gairah hidup.Apa aku orang yang tidak bahagia?
    Perlahan, aku terlempar ke alam mimpi.Mimpi?Aku tidak terlalu percaya dengan mimpi sebenarnya. Tapi akhir-akhir ini, mimpi itu membuat aku bertanya seribu kali apakah mimpi itu ada dan mempunyai arti khusus yang disampaikan untuk menyatukan potongan pertanyaan masa depan yang belum tuntas?
     Mimpi pertama.
   Awalnya aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku ada dalam ruang kurungan yang lumayan besar dan menyatu dengan ruang kurungan lain seperti labirin yang terbuat dari besi. Aku lihat semua orang panik mencari jalan keluar dari labirin itu.aku tidak kalah panik. Aku juga ikut mencari jalan keluar dari labirin itu.aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika seandainya aku tetap berada disana. Hingga akhirnya aku lolos dan tidak merasakan apa-apa setelahnya.
     Mimpi kedua.
   Aku berada disebuah perkampungan.Dekat dengan sungai yang bermuara ke laut.Aku turun dari mobil.Aku berjalan melihat kiri kanan secara bergantian.Aku melihat cermin besar.Tapi aku tidak melihat bayanganku.Aku heran dan aku tidak terlalu memikirkan hal itu.Jauh di depanku ada seseorang yang sedang menaiki sebuah perahu sampan.Aku mendekatinya dan aku bilang padanya bahwa aku ingin ikut dengannya.Tapi dia menolak dan menyuruhku untuk mengganti pakaianku.Aku tidak mengerti.Tapi saat kulihat, aku terkejut. Aku baru sadar ternyata aku memakai baju longgar yang kumuh dan banyak sekali robekan di sana dan celana yang longgar. Aku segera kembali ke mobilku.Sebenarnya aku juga tidak tahu mobil itu darimana.Aku membuka bagasi belakang mobil ada banyak pakaian.Tak tahu kenapa aku tahu ada banyak pakaian disana.Aku pakai saja.Aku kembali ke arah sungai.Aku masih melihatnya disana dan aku berusaha naik ke atas perahu tapi aku terjatuh.Dia melihatku.Tapi, dia tidak menolongku.Dan dia memutuskan untuk terus mengayuh perahunya.
Mimpi itu, apakah ada hubungan dengan hari itu?Atau hari hari setelahnya?
     Sebenarnya bukan itu saja yang membuat aku merasa kehilangan yang entah apa orang lain menyebutnya dalam diriku.
     Aku mengharapkan dia datang di saat hari ulang tahunku.Salah satu, atau mungkin hanya dia sahabatku.Aku hanya ingin dia datang.Hanya itu.aku tidak menginginkan yang lain. Hanya dia. Ya Tuhan.Saat hari ulang tahunku, hanya dia yang bisa menyelamatkan hari’ itu, menyelamatkan kegalauan hati ini.
   Keluargaku? Hari ulang tahun tidak terlalu penting untuk mereka. Tapi jika ada kesempatan, mereka akan merayakannya secara kekeluargaan. Perayaan yang sederhana untuk momen yang sempurna.
******
     Kurang lebih setahun yang lalu.
   Sehari sebelum ulang tahunnya.Aku datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.Aku ingin memberikan kejutan kecil untuknya.Dan kedatanganku sekaligus kali pertama aku datang ke tempatnya.Aku sukses memberikan kejutan itu.Dia bahagia begitu juga dengan aku.
******
Aku sangat berharap dia datang.Tapi aku terlalu takut untuk memintanya.Aku takut kalau seandainya jawaban yang aku terima itu ‘tidak’.Aku takut jawaban itu membuat aku terluka.Aku takut.Sangat takut.Tapi seandainya dia tidak datang saat hari ulang tahunku jelas membuat suatu perubahan yang besar.Teramat besar.
******
Kurang lebih dua bulan dari hari ini.
Dia  :kamu datang ya pas hari ulang tahunku?
Aku  :pasti dong :)
     Kalau ada hari libur, aku pasti akan datang.Tidak ada hari libur pun aku tetap akan datang.”Kataku dalam hati.
     Kali ini harus benar-benar spesial. Sebulan lebih lamanya aku memikirkan apa yang akan aku beri padanya. Aku sungguh sangat bingung waktu itu. Bahkan aku sempat putus asa hanya memberikan bingkai foto kita berdua padanya. Spesial? Aku rasa tidak.
     Sehari sebelum ulang tahunnya.
    Aku sudah mempersiapkan apa yang akan aku berikan. Setidaknya kali ini aku harus membeitahukan kepadanya bahwa aku akan datang. Kuputuskan untuk meneleponnya.
Dia  : halo?
Aku  : eh, lagi dimana?
Dia  : on my way. Balik lagi nih.
Aku  : ia? Lagi dimana nih?
Dia  : masih dekat dari kota. Baru berangkat soalnya.Kenapa?
Aku  : besok aku libur. Aku mau datang ke tempat kamu.Kamu sibuk nggak?
Dia  : ia? Ya Tuhan. Aku sibuk nih besok. Aku sibukorganisasi. Ada rapat bla bla bla
     Ini dia hal yang paling aku benci darinya.Aku tidak ingin mendengar alasan itu sebenarnya.Tapi terpaksa. Kalau aku tidak mendengarnya, diaakan berhenti bicara. Kesal.
Aku   : serius nih? Nggak ada waktu?
Dia  : ia. Maaf, ya? Kalo ada kan kamu tahu, aku bakalan ngajak kamu keliling kota. Jalan-jalan.
Aku  : ia sih. Jadi aku nggak datang ya pas hari ulang tahunmu?
Dia  : (setengah berteriak) oh, ia. Besok aku ulang tahun ya?
     Deg. Senjata makan tuan. Awalnya aku  yang ingin memberikan kejutan itu. Tapi malah aku yang terkejut dibuatnya. Ternyata dia tidak ingat hari ulang tahunnya.Kenapa harus aku yang mengingatkannya?Kenapa aku begitu bodoh sekali?
    Mungkin. Tuhan punya rencana lain. Perencanaan itu tidak berjalan sempurna seperti yang diharapkan.Juga hari-hari setelahnya.
     Aku punya hadiah yang terbilang biasa. Tapi dari beberapa sisi itu sangat istimewa. Aku tidak perlu menceritakan bagian itu disini. alasan privasi.
******
     Ketika semuanya jelas.
    Aku mencoba menemukan kembali motivasi dalam diriku.Aku lebih banyak mendengar daripada biasanya.Mencoba memahami sepenuhnya.Apa yang dicari selama ini adalah
     “bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar.Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”
     Kutipan itu menjadi sebuah penyemangat hidup untukku.Sebuah pembelajaran yang sangat berharga.
     Kali pertama hujan turun di bulan Mei.
    Aku mendengar kebisingin di atas atap kamarku. Itu hujan. Aku segera berlari ke beranda depan rumahku. Aku dapat mendengar suara hujan semakin deras. Kau tahu, saat hujan turun aku merasa sangat nyaman. Aku merasa sangat damai. Senang. Bukankah kau juga pernah mengalami hal seperti itu?
     Saat hujan turun hari ini, kali pertama hujan turun di bulan Mei, aku merasa lebih ringan. Beban yang beberapa hari ini kupikul perlahan semakin ringan. Seperti seakan beban itu musnah saat menyentuh tetesan-tetesan air hujan.
     Sekarang aku sadar. Pikiran pun terbuka lebar.
Dan tak perlu lagi aku berharap terlalu besar kepada orang lain. Tak perlu lagi aku takut seandainya penolakan membuat aku tersakiti.Aku tak harus sedih.Aku tak harus menyesal.Tapi satu hal yang kuketahui, hidup harus terus berlanjut dalam bentuk apapun.

You Might Also Like

0 comment(s)