Sang Penipu

Ada orang yang takut menunjukkan bahwa ia sangat sedih. Bahwa ia sangat ingin bercerita. Bahwa ia ingin merasa seperti di rumah. Hanya saja...

Ada orang yang takut menunjukkan bahwa ia sangat sedih. Bahwa ia sangat ingin bercerita. Bahwa ia ingin merasa seperti di rumah. Hanya saja ia takut sekiranya orang-orang akan mengatakan kalau ia lemah. Jadi, ia selalu menyembunyikannya.

Dia tahu kalau orang-orang akan selalu menilai orang lain dari yang tampak luarnya saja. Maka, ia mulai menipu banyak orang. Saat ia sedang sedih, ia tersenyum. Saat ia sedang gembira, ia tertawa. Tak ada yang tahu persis dengan yang ia rasa. Dia selalu tampak ceria. Orang-orang beranggapan bahwa ia orang yang paling bahagia. Tak ada celah kesedihan sedikitpun yang terlihat di wajahnya.

Orang mulai menyukai dirinya. Banyak juga yang mengaguminya. Menyukai kehidupannya dan segala apa yang ia punya. Bukan dirinya sebenarnya yang orang sukai itu. Tapi orang yang ia ciptakan sendiri dalam dirinya. Orang yang sama tapi jiwa yang berbeda. Banyak yang tidak sadar. Hanya sedikit dari mereka yang tahu. Ada yang melihat dia seperti orang yang tidak pernah punya masalah. Ada yang mengatakan bahwa ia sangat mengenal orang itu. Ada juga yang tidak mau tahu dan tidak peduli tentangnya.

Kini ia sadar, ia sudah melangkah jauh dari yang ia kira. Bahwa ia sudah sangat banyak menipu orang-orang bahkan ia sudah menipu dirinya sendiri dan Tuhan. Dan ini sudah kelewatan. Bahkan seandainya ia bisa bicara dengan Tuhan, Tuhan pasti akan sangat marah padanya. Bagaimana tidak? Ia sudah berani menipu sang Pencipta.

Dan kini ia seperti orang gila sedang berdiri di luar sana. Ingin melangkah tapi tak tahu arah. Tetap berdiri membuat ia merasa pusing dan ingin muntah. Terkadang ia berteriak sekeras yang ia bisa tapi tak satupun dari mereka yang mendengarkannya. Ia tetap berdiri seperti menanti seseorang yang sekiranya melihat dia dan membawanya pergi ke tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Lama sekali. Bahkan tak ada yang tahu sejak kapan ia berada disana. 



RYAN HIDAYAT

You Might Also Like

0 comment(s)