Tulisan Modern
Sang Penipu
Sabtu, Oktober 18, 2014
Ada orang
yang takut menunjukkan bahwa ia sangat sedih. Bahwa ia sangat ingin bercerita.
Bahwa ia ingin merasa seperti di rumah. Hanya saja ia takut sekiranya orang-orang
akan mengatakan kalau ia lemah. Jadi, ia selalu menyembunyikannya.
Dia tahu
kalau orang-orang akan selalu menilai orang lain dari yang tampak luarnya saja.
Maka, ia mulai menipu banyak orang. Saat ia sedang sedih, ia tersenyum. Saat ia
sedang gembira, ia tertawa. Tak ada yang tahu persis dengan yang ia rasa. Dia
selalu tampak ceria. Orang-orang beranggapan bahwa ia orang yang paling
bahagia. Tak ada celah kesedihan sedikitpun yang terlihat di wajahnya.
Orang mulai
menyukai dirinya. Banyak juga yang mengaguminya. Menyukai kehidupannya dan
segala apa yang ia punya. Bukan dirinya sebenarnya yang orang sukai itu. Tapi
orang yang ia ciptakan sendiri dalam dirinya. Orang yang sama tapi jiwa yang
berbeda. Banyak yang tidak sadar. Hanya sedikit dari mereka yang tahu. Ada yang
melihat dia seperti orang yang tidak pernah punya masalah. Ada yang mengatakan
bahwa ia sangat mengenal orang itu. Ada juga yang tidak mau tahu dan tidak
peduli tentangnya.
Kini ia
sadar, ia sudah melangkah jauh dari yang ia kira. Bahwa ia sudah sangat banyak
menipu orang-orang bahkan ia sudah menipu dirinya sendiri dan Tuhan. Dan ini
sudah kelewatan. Bahkan seandainya ia bisa bicara dengan Tuhan, Tuhan pasti
akan sangat marah padanya. Bagaimana tidak? Ia sudah berani menipu sang
Pencipta.
Dan kini ia seperti
orang gila sedang berdiri di luar sana. Ingin melangkah tapi tak tahu arah.
Tetap berdiri membuat ia merasa pusing dan ingin muntah. Terkadang ia berteriak
sekeras yang ia bisa tapi tak satupun dari mereka yang mendengarkannya. Ia
tetap berdiri seperti menanti seseorang yang sekiranya melihat dia dan membawanya
pergi ke tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Lama sekali. Bahkan tak
ada yang tahu sejak kapan ia berada disana.
- RYAN HIDAYAT
0 comment(s)