Demi Membunuh Waktu [Menunggu]

Seorang lelaki sedang duduk termenung di sebuah taman kota di negeri nan jauh disana yang masih tegadah ke atas langit yang dulu pernah...



Seorang lelaki sedang duduk termenung di sebuah taman kota di negeri nan jauh disana yang masih tegadah ke atas langit yang dulu pernah membasahi seluruh tubuhnya. Sesekali ia hanya mengayunkan kakinya secara bergantian yang kiri dan yang kanan demi membunuh waktu.

Lelaki itu sibuk menyaksikan serangga-serangga kecil yang berterbangan mengitari bunga tulip yang sedang mekar menebarkan apa-apa saja yang ada padanya atau hanya sekedar menebak seperti apa bentuk awan yang terkadang berwarna putih, kelabu, dan bahkan kelam kelabu demi membunuh waktu.

Sesekali ia menebarkan makanan kepada burung yang sering hinggap di pinggiran kolam mencari sesuatu yang bisa dimakan dan juga kepada burung yang kebetulan lewat disitu mencari sesuatu yang bisa dibawa pulang atau hanya sekedar melempar batu yang natinya akan menumbuhkann lumut dan menghiasi dasar kolam yang menerima apa apa saja yang diberikan kepadanya demi membunuh waktu.

Lalu, berapa banyak waktu yang dibuang begitu saja agar dapat dikatakan menunggu?

Kau tahu, lelaki itu benci sekali dengan kata menunggu. Terkadang ia berpikir untuk memilih melakukan hal yang ia suka. Bukankah sedari tadi ia hanya membunuh waktu?

Ia memalingkan wajahnya secara bergantian ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang telah lama ia nantikan. Demi membunuh waktu atau demi sosok yang ditunggu? Ia tetap duduk sebuah taman kota di negeri nan jauh disana tengadah ke atas langit yang kini telah membasahi pipinya.

Disana, tepat di bawah pohon rambutan yang teduh. Lelaki itu menegadah menunggu kalau-kalau matahari berkelebat lewat di sela-sela rimbunan dan dengan cerdik menembusnya. Ia masih tetap menunggu. Sekiranya, risaulah ia ketika menyadari bahwa sosok itu tak akan datang kembali untuk menemuinya lagi. Lagi?


You Might Also Like

0 comment(s)