Puisi
Demi Membunuh Waktu [Menunggu]
Minggu, Juni 08, 2014
Seorang lelaki sedang duduk termenung di sebuah taman kota di
negeri nan jauh disana yang masih tegadah ke atas langit yang dulu pernah
membasahi seluruh tubuhnya. Sesekali ia hanya mengayunkan kakinya secara
bergantian yang kiri dan yang kanan demi membunuh waktu.
Lelaki itu sibuk menyaksikan serangga-serangga kecil yang
berterbangan mengitari bunga tulip yang sedang mekar menebarkan apa-apa saja
yang ada padanya atau hanya sekedar menebak seperti apa bentuk awan yang terkadang
berwarna putih, kelabu, dan bahkan kelam kelabu demi membunuh waktu.
Sesekali ia menebarkan makanan kepada burung yang sering hinggap
di pinggiran kolam mencari sesuatu yang bisa dimakan dan juga kepada burung
yang kebetulan lewat disitu mencari sesuatu yang bisa dibawa pulang atau hanya
sekedar melempar batu yang natinya akan menumbuhkann lumut dan menghiasi dasar
kolam yang menerima apa apa saja yang diberikan kepadanya demi membunuh waktu.
Lalu, berapa banyak waktu yang dibuang begitu saja agar dapat dikatakan menunggu?
Kau tahu, lelaki itu benci sekali dengan kata menunggu.
Terkadang ia berpikir untuk memilih melakukan hal yang ia suka. Bukankah sedari
tadi ia hanya membunuh waktu?
Ia memalingkan wajahnya secara bergantian ke kiri dan ke kanan
mencari sosok yang telah lama ia nantikan. Demi
membunuh waktu atau demi sosok yang ditunggu? Ia tetap duduk sebuah taman
kota di negeri nan jauh disana tengadah ke atas langit yang kini telah
membasahi pipinya.
Disana, tepat di bawah pohon rambutan yang teduh. Lelaki itu
menegadah menunggu kalau-kalau matahari berkelebat lewat di sela-sela rimbunan
dan dengan cerdik menembusnya. Ia masih tetap menunggu. Sekiranya, risaulah ia
ketika menyadari bahwa sosok itu tak akan datang kembali untuk menemuinya lagi.
Lagi?
0 comment(s)