Puisi
Sepucuk Surat Yang Pergi Dan Lama Kembali
Sabtu, Juni 07, 2014
Tak ada yang bisa kulakukan
kecuali hanya menatap dinding keraton putih yang tetap setia berdiri kokoh
walau permukaannnya ada banyak sekali bercak hujan yang telah mengering dan
membentuk beberapa wajah yang dulu kita pernah tertawa atau disaat kita
bersedih dan memalingkan muka kita disana.
Ketika malam tak juga menegurku, aku pun tetap berharap sampai suatu saat nanti ada bintang yang jatuh ke dasar lautan luas menyapaku. Saat ia merasa bulan tak ingin menemuinya lagi, akan kutuliskan ribuan surat untuknya. Jangan kau ganggu aku! Aku sedang menulis puisi. Akan kutuliskan serangkaian kata-kata indah yang tersusun rapi di atas kertas putih yang dulu kau pernah membuangnya begitu saja ketika kau rasa ia tiada guna.
Aku pun berniat mengirimkan sepucuk surat padanya. Surat itu tidak pernah mengeluh ketika aku akan memasukkannya dan mengurungnya ke dalam botol kecil yang penuh debu di dalamnya. Dan berharap akan ada balasan surat darinya. Surat itu juga tidak pernah mengeluh ketika aku dengan perlahan dan sangat hati-hati melepaskannya ke permukaan laut dan terombang-ambing menentukan arah haluannya sendiri.
Lama sekali aku menunggu. Angin tak juga menyampaikan padaku. Aku sendirian disini. Kesepian. Di sekitar tepian pantai. Diterjang ombak yang berputar menghempaskan dirinya ke bebatuan. Dinginnya deru angin pun tak lagi kupedulikan. Aku tetap menunggu. Menunggu sepucuk surat yang pergi dan lama sekali kembalinya.
0 comment(s)