Puisi
Secangkir Kopi
Selasa, Juni 03, 2014
Aku
akan mengingat tentang secangkir kopi dingin yang kau berikan padaku malam itu.
Cangkirnya memang tidak mahal atau kopinya –kalau boleh kukatakan- aku sangat
suka sekali rasa dan aromanya. Bukan karena itu, tapi karena cerita yang ada didalamnya
Malam
itu suasana kota tersa sangat sejuk saat selembar demi selembar kabut
menyelimuti. Jalanan terlihat basah dengan cahaya lampu putih berbentuk bundar yang
ada disekitarnya dan pohon-pohon yang nakal selaku menjatuhkan daun-daun yang
sudah sangat kering dan warnanya kecoklatan tengadah di atas jalanan itu. Semua
orang tahu anginlah pelakunya walau daun itu terus menerus berusaha untuk tidak
bergoyang dan terpisah dari pohon yang dulu pernah melahirkannya. Sungguh
sempurna malam itu kurasa.
Hanya
secangkir kopi dingin memang. Secangkir kopi yang dengan tenang menunggu kau
minum itu tidak pernah menyusut kenapa kau bisa membedakan aromanya dari asap
yang setiap hari kau minum ketika berangkat dan pulang kerja di kota yang
semakin tidak bisa mengerti kenapa mesti ada kopi yang tersedia di atas meja
setiap pagi. Tapi, bukankah ini malam
hari? Secangkir kopi yang semua orang sering kali meminumnya. Tapi kali
ini, kopi dingin itu terasa istimewa. Kau tahu kenapa? Karena secangkir kopi
dingin itu kau yang memberikannya.
0 comment(s)