Secangkir Kopi

Aku akan mengingat tentang secangkir kopi dingin yang kau berikan padaku malam itu. Cangkirnya memang tidak mahal atau kopinya –kalau b...



Aku akan mengingat tentang secangkir kopi dingin yang kau berikan padaku malam itu. Cangkirnya memang tidak mahal atau kopinya –kalau boleh kukatakan- aku sangat suka sekali rasa dan aromanya. Bukan karena itu, tapi karena cerita yang ada didalamnya
Malam itu suasana kota tersa sangat sejuk saat selembar demi selembar kabut menyelimuti. Jalanan terlihat basah dengan cahaya lampu putih berbentuk bundar yang ada disekitarnya dan pohon-pohon yang nakal selaku menjatuhkan daun-daun yang sudah sangat kering dan warnanya kecoklatan tengadah di atas jalanan itu. Semua orang tahu anginlah pelakunya walau daun itu terus menerus berusaha untuk tidak bergoyang dan terpisah dari pohon yang dulu pernah melahirkannya. Sungguh sempurna malam itu kurasa.
Hanya secangkir kopi dingin memang. Secangkir kopi yang dengan tenang menunggu kau minum itu tidak pernah menyusut kenapa kau bisa membedakan aromanya dari asap yang setiap hari kau minum ketika berangkat dan pulang kerja di kota yang semakin tidak bisa mengerti kenapa mesti ada kopi yang tersedia di atas meja setiap pagi. Tapi, bukankah ini malam hari? Secangkir kopi yang semua orang sering kali meminumnya. Tapi kali ini, kopi dingin itu terasa istimewa. Kau tahu kenapa? Karena secangkir kopi dingin itu kau yang memberikannya.


You Might Also Like

0 comment(s)