Kenapa?
Minggu, April 10, 2016
Kenapa kau melakukan itu? Kenapa setiap kali aku duduk di beranda sebuah café dengan secangkir teh yang masih hangat dan beberapa potong roti dengan selai cokelat dan keju didalamnya, kau terlihat seberti sedang mencuri-curi perhatian kepadaku? Saat itu aku berfikir bahwa ada sesuatu yang salah terjadi padaku. Seperti apakah aku salah dalam cara memakan rotiku ataukah ada sesuatu di wajahku yang entah sudah berapa lama ada di sana.
Kenapa kau melakukan itu? Kenapa setiap kali aku sedang tidak menatapmu,
berpura-pura menulis puisi ini dan berfikir apa lagi yang akan aku tulis
disana, kau tersenyum- senyum melihat tingkahku yang mungkin saja terlihat lucu
bagimu? Ayolah! Katakan saja yang sebenarnya! Janganlah kau buat aku hidup
dalam keraguan seperti ini!
Kenapa kau melakukan itu? Kenapa sepertinya kau rela meluangkan waktumu
untuk lewat di depan rumahku, kau memperlampat laju mobilmu hanya untuk
memastikan apakah aku ada disana sedang di kursi taman dengan sebuah buku Daun
Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin di tangan kiriku dan segelas susu dengan
rasa vanilla yang masih hangat di tangan kananku, demi bertemu akukah?
Aku berani mengatakan seperti itu karena kau melakukannya tidak sekali
dua kali.
Asal kau tahu saja. Aku sebenarnya berpura-pura tidak tahu. Aku
bersikap seolah-olah aku tidak tahu apa-apa karena aku masih ingin melihat
bagaimana caramu merebut hatiku. Terkadang tanpa kau sadari sebelum tidurku,
aku sering kali memikirkanmu. Yang aku inginkan darimu hanyalah kau melakukan
lebih dari itu.
Jangan pernah takut! Anggap saja satu senyuman manismu yang kau berikan
untukku sebagai tiket emas untuk memenangkan perhatianku. Itu saja sudah cukup
bagiku.
Tapi, kau sepertinya telah menyerah. Seolah aku tidak memberikan respon
yang baik untukmu. Maafkan aku jika kau menggangapnya demikian. Percayalah! Aku
tak bermaksud seperti itu.
Yang aku inginkan darimu hanyalah kau melakukan lebih dari itu.

0 comment(s)