Sudahlah

Termenungku sendiri. Ada rasa yang bergejolak dalam dada. Menepis bayang-bayang kesedihan. Membaur dengan aroma rerumputan basah. Terbuai....



Termenungku sendiri. Ada rasa yang bergejolak dalam dada. Menepis bayang-bayang kesedihan. Membaur dengan aroma rerumputan basah. Terbuai. Hanyut aku dalam lamunanku sendiri.

Kemana terbangnya kupu-kupu itu? kulihat ia hanya berputar-putar tak tentu arah mencari sesuatu yang belum ditemukan. Tapi seringkali menemukan yang tidak dicari. Terkadang sesuatu itu bisa saja didekatnya. Disekitarnya. Parah! Mungkin ia-nya saja yang terlambat untuk menyadari. Kenapa tidak kau katakan saja kepadanya apa yang ada didekatnya?

Pohon itu berdiri kokoh sejak lama. Tapi baru kulihat beberapa kawanan burung suka hinggap disana. Bersiul seolah ia menciptakan suara pohon yang sejak sedari dulu itu membisu. Kata pohon itu, ‘Ajari aku bersuara!’

Sudahlah. Tak perlu dipungkiri lagi. Kita hanya mempersulit keadaan. Tak hanya kita, bahkan awan pun enggan menampakkan diri di atas langit. Aku tak pernah tahu apakah itu pertanda baik atau malah justru sebaliknya. Tak ada seorangpun yang mengatakan hal itu padaku.

Aku sudah tidak peduli lagi. 




You Might Also Like

0 comment(s)