Senja Telah Usai

Aku terjaga pagi ini dengan tanpa sehelai benang pun ditubuhku tapi masih selimut yang menutupi. Ku dengar suara burung dan tak kulihat...



Aku terjaga pagi ini dengan tanpa sehelai benang pun ditubuhku tapi masih selimut yang menutupi. Ku dengar suara burung dan tak kulihat burung itu tapi aku tahu burung itu ada disana. Bayangkan seandainya yang kau lihat di cermin bukan wajahmu tetapi seekor burung yang terbang di langit yang sedikit berawan, yang menabur-naburkan angin di sela-sela bulunya.

Terakhir kali kutinggalkan jejak kakiku di pasir tepi pantai saat sedang menikmati tenggelamnya matahari. Saat itu aku merasa sudah cukup untuk aku bersedih hati atas apa yang telah kau lakukan padaku. Ya, aku fikir semua itu sudah menjadi bagian dari masa lalu. Kau tak boleh mengisi lembaran yang masih kosong dengan kisah sedih yang berkepanjangan. Setidaknya begitu kata tuanku.

Ada air mata yang sudah hampir mengering di pipi sebelah kiriku. Seseorang mengulurkan tangannya sembari menawarkan sapu tangan berwarna putih yang terbuat dari kain sutera dan ada motif kotak-kotaknya untukku. Diberikannya juga sweater nya untuk menutupi dan menghangatkan tubuhku dari dinginnya angin malam; senja telah usai.

Malam ini malam yang panjang. Kita punya wine yang disimpan dalam tong kayu ek. Kita duduk berhadapan tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kita melainkan hanya sebatas senyum manis dan nakal seolah kita berbicara lewat sesuatu yang hanya kita saja yang mengerti. Sesekali kita tertawa bersama yang entah apa yang kita tertawakan. Lalu kita kemudian bercumbu dan bercinta. Bercinta lagi.

Tubuhku masih berada di atas kasur dan masih selimut yang menutupi. Kulihat secarik kertas darimu yang mengatakan bahwa aku tak akan pernah merasakan luka yang sama untuk yang kedua kalinya dan kau telah berjanji.

Ada senyumanmu yang tertinggal di atas sepotong roti yang kau hidangkan pagi ini di atas kasurku sebelum aku benar-benar terjaga dari lelapnya tidurku. 





You Might Also Like

0 comment(s)