Dia

Dia membuatku merasa aman. Saat aku menatap matanya, aku merasa seolah-olah waktu berhenti sebentar. Aku berdiri sangat dekat denganny...




Dia membuatku merasa aman. Saat aku menatap matanya, aku merasa seolah-olah waktu berhenti sebentar. Aku berdiri sangat dekat dengannya saat itu. Aku masih bisa merasakan bau rumput segar, perkamen baru, dan pasta gigi beraroma mint. Dan aku bahkan masih ingat bau keringatnya.

Dia membuatku merasa aman. Saat orang-orang picik dengan perkataan bodoh yang sama saling menyakiti dan membuat luka yang tak nyata tapi jelas adanya antara satu dengan yang lain, dia datang padaku dan membawaku pergi, menarikku dari tepi jurang yang sangat curam, bersembunyi menghindari luka, menghindar dari kesakitan.

Sayangnya, kita berdua tak bisa hidup bersama. Meski telah berusaha keras mencoba, tetap tidak bisa. Sulit untuk menjelaskan keadaan yang hanya dirasakan oleh para pecinta yang tenggelam dalam angan-angan cinta itu sendiri. Mungkin mudah saja bagi mereka yang tidak mengerti untuk berkata-kata. Tapi sayang, mereka tidak tahu. Mereka tidak pernah paham.

Aku merasa seolah aku berdiri di tengah jembatan kayu yang sangat tua dan lapuk. Jika aku tetap berdiri maka aku akan mati. Jika aku melangkah pergi atau berlari pun sama saja.

Tapi dia bisa membuatku merasa aman. Dia memberikan segala-galanya untukku tanpa harus aku minta.

Dan tetap saja kita berdua tidak bisa hidup bersama.

Maafkan aku. Andai saja orang-orang diluar sana banyak yang mengerti dan mulai memahami, mungkin aku akan sedikit lebih berani untuk menjadi diriku sendiri. Tapi kini aku takut. Masih saja tetap takut meski aku sudah jauh dari kerumunan dan menebas semua yang pernah tumbuh dalam dada. 





You Might Also Like

0 comment(s)