Hello, May! Goodbye!

Kemarin kusambut kau dengan senang hati. Senang sekali sampai aku lupa bahwa aku sedang terluka. Tak peduli seberapa dalam luka itu. Ya...



Kemarin kusambut kau dengan senang hati. Senang sekali sampai aku lupa bahwa aku sedang terluka. Tak peduli seberapa dalam luka itu. Yang terpenting saat itu adalah kau telah hadir di depan mata. Aku merindukanmu. Sungguh. Entah sudah berapa lembar rinduku menumpuk di balik tubuh yang sering kau peluk dengan mesra saat musim dingin atau yang kau bawa ke tepi pantai dan berlari bersama ombak yang berdebur dengan irama yang menyejukkan saat musim panas.

Kufikir harapanku terkabul. Kufikir doaku didengar. Kufikir impianku terwujud.

Akan ada banyak orang. Saling bertemu wajah ke wajah dan pipi ke pipi serta memeluk tubuh satu dengan tubuh lain. Saling menciptakan senyum di wajah mereka dan membuat keributan disana-sini. Saling mendentingkan gelas ke udara. Tak mengapa bila tak ada hadiah. Aku hanya berharap akan ada banyak orang yang bertemu. Kufikir harapanku terkabul. Tapi hanya kesepian selalu saja tak mau pergi.

Awalnya itu bukanlah masalah yang besar. Sungguh. Ibarat sepatu, ia bisa dibawa kemanapun aku pergi. Membawa sesuatu yang selalu dinanti-nanti. Yang siapapun rela menunggu di depan pintu, duduk sambil ditemani secangkir teh. Dan kini tak tahu kenapa itu menjadi sebuah beban. Aku hanya berdoa aku bisa menciptakan kebahagiaan yang tidak bisa orang lain ciptakan. Dan akan kubagikan kebahagiaan itu. Karena kebahagiaan itu akan terlihat nyata saat kita membaginya. Tapi hanya kesedihan yang selalu saja tak mau pergi.

Mendengar suara ombak. Membiarkan kulit di serang oleh teriknya matahari. Melihat senja dan tenggelamnya matahari. Menikmati lautan bintang di angkasa. Siapa yang tidak ingin melewatkan hal itu? Aku pernah bermimpi berbaring di tepi pantai sampai larut malam sendirian. Walau banyak sampan yang lalu lalang mencari tempat untuk menebar jala. Kufikir impianku terwujud. Tapi hanya saja mimpi itu hilang ditelan badai. Dan badai itu pergi  entah kemana.

Kini, tak kusangka kau pergi begitu cepat. Tak sempat lagi rasanya sekali saja memeluk dan mencium pipimu atau tak sempat lagi rasanya membuatkan teh itu untukmu. Kenapa aku bisa begitu bodoh menyia-nyikan waktu yang telah kau beri dan percayakan sepenuhnya untukku?

Aku mati. hatiku dingin; hangatkan aku. jiwaku kering; hujani aku.

Esok tak tahu lagi apa aku harus menumpuk kembali rinduku atau kuberikan lagi saja kepada badai? 



Ryan Hidayat

You Might Also Like

0 comment(s)