Adeus
Perahu
Tulisan Modern
Samudera Diatas Langit
Selasa, Desember 09, 2014
Hari ini hari yang indah, Adeus. Tidak ada kulihat setumpuk awan yang mau mengotori langit. Biru. Kubayangkan ada perahu Malaikat sedang melintas di atas sana. Memancing kita yang sedang berbaring di rumput kering untuk menyentuh salah satu pengaitnya. Lalu ditariknya kita ke atas langit. Melihat ikan duyung yang melayang mengitari perahu Malaikat itu. Lihat! Ikan duyung itu melambaikan tangan ke arahku, Adeus. Tersenyum ramah menyambut kedatangan kita. Katanya ia ingin mengajak kita berkeliling samudera tepat 3 langkah di atas langit.
Sekawanan angsa berenang menuju dermaga yang menjadi tempat kesukaan sang Malaikat untuk sekedar duduk melihat keindahan alam yang ada di bawah langit, samuderanya. Angsa sering kali mengganggu sang Malaikat dikala ia sedang dirundung kesedihan. Angsa itu mengatakan kalau ia ingin sekali menjadi unggas pertama yang membuat sang Malaikat tertawa. Membuat hati sang Malaikat kembali ceria. Sang Malaikat menaburkan biscuit yang kebetulan ada di tangannya kepada sekawanan angsa itu. Ternyata sang Malaikat sedang menikmati secangkir teh hangat dan beberapa potong biscuit sore ini, Adeus.
Suasananya tenang. Samuderanya luas. Lebih luas dari semua samudera yang ada di tempat kita. Tak ada gelombang. Hanya ada kabut tipis yang menyelimuti tubuhnya. Angin yang menerpa-nerpa rambut ikalnya. Kini kulihat ia tersenyum, Adeus. Entah itu karena sekawanan angsa atau karena angin yang menerpa rambutnya. Entahlah. Sekarang yang terpenting ialah kini ia sedang bahagia.

0 comment(s)