Book Of 2014

Life is never flat. Bahkan dalam satu hari pun, tak semua hal-hal buruk terjadi padamu. Ada hal baik yang datang tapi mungkin saja kau ...



Life is never flat. Bahkan dalam satu hari pun, tak semua hal-hal buruk terjadi padamu. Ada hal baik yang datang tapi mungkin saja kau tak menyadari itu. 

Hidup itu tentang sebuah perjalanan. Yang jika diibaratkan, kita berada di tengah samudera yang sangat luas. Sejauh mata memandang, hanya lautan lepas yang terlihat. Kita punya sebuah sampan kecil dan sebuah dayung. Tapi kita tak tahu apa yang harus kita lakukan dan kemana kita harus pergi. Pada awalnya, seperti itulah hidup kita. Dan hanya kita yang berhak menentukan apakah kita akan menyelam ke dalam laut, ataukah melayang di udara, atau bahkan hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Pasrah begitu saja kemana ombak akan membawa kita pergi. Kalau kau bertanya padaku, aku lebih memilih untuk menyelam ke dalam laut lalu melayang jauh di udara seperti layaknya seekor lumba-lumba. 

Perjalanan.
Bagiku, perjalanan itu terbagi menjadi dua. Yang pertama, jika kita sudah tahu arah dan tujuan kita dan kita sudah pernah kesana, pastinya kita hanya ingin menikmati perjalanannya saja. Tak peduli seberapa jauh kita melangkah. Karena, di perjalanan itulah kita mendapat sebuah kepuasan bathin yang membuat hati kita merasa bahagia. Yang kedua, jika kita sudah tahu tujuan kita dan kita tidak pernah kesana, pastinya tujuan kita akan memberikan kepuasan bathin kepada kita dan membuat hati kita merasa bahagia. Tapi kita tak mengetahui kemana arah yang harus kita lalui dan sebuah tujuan yang sempurna seperti itu sering kali membuat kita kehilangan arah. Tanpa pemandu dan petunjuk jalan, kita akan tersesat. Satu hal yang harus kita lakukan saat kita tersesat dan tak tahu dimana jalan keluar, kita harus membuat jalan kita sendiri. 

Dan inilah cerita tentang sebuah perjalanan seorang Ryan Hidayat.
Jika December tahun lalu aku punya cerita The End Of The Story in 2013, December kali ini aku punya cerita dan aku bakal kasih judul Book Of 2014

I remember when somebody wishes on my birthday and she said, “Forget your past. Face your future and do the best. I hope this will the happiest year that happened in your life. Happy Birthday, Ryan Hidayat.”

Dan, sepertinya doanya didengar oleh Tuhan. Dia orangnya baik. Dan aku berharap semoga dia selalu berada di bawah lindunganNya. Aamiin.

Bersyukur itu penting. Bener nggak, sih? Bukan bahagia yang menjadikan bersyukur. Tetapi bersyukur yang menjadikanmu bahagia. Kita harus sering berkomunikasi dengan Tuhan agar hubungan kita dengannya lebih intim. Biar hubungan kita dengannya lebih akrab. Lebih baik kita cerita tentang keseharian kita kepadaNya, tentang bagaimana perasaaanmu kita saat itu, tentang apa yang kita inginkan, tentang apa saja. Karena aku yakin hanya Dialah yang paling mendengarkan ceritamu, yang paling paham dengan perasaanmu, yang paling mengerti dengan keinginanmu. 

Aku akui aku kurang komunikasi denganNya. Setiap kali saat aku berkumpul dengan some people I called friends, having a quality time with them all. Yeah, you must be thought bahwa itu adalah momen yang paling menyenangkan kita bisa berkumpul dan bercerita, bercanda dan tertawa dengan mereka. But, I fell empty. Aku nggak ngerasain apa-apa. Seneng ataupun sedih. Gembira ataupun bahagia. But, when people laughed, I laughed. I know, that is fake. So, what I’m gonna do? 

Aku melihat hidupku seolah-olah aku sudah pernah mengalaminya. Bagai parade pesta dan tarian yang tiada henti-hentinya. Selalu orang picik yang sama dengan perkataan bodoh yang sama. Aku merasa berdiri di tepi sebuah jurang besar. Tanpa seorangpun yang menarikku dari sana. Tak ada yang peduli atau bahkan memperhatikan.  

Look, walaupun aku orang yang mudah tersenyum. Aku juga adalah type orang yang mudah stress, pemikir. Tapi aku suka menyembunyikannya lewat senyumanku. Aku sering terjebak dengan fikiranku sendiri. Tapi aku selalu saja bisa menemukan jalan keluar. Yang aneh disini adalah aku kadang terjebak dalam lubang yang sama dan aku tak pernah keluar lagi. Aku tersesat. Aku membuat jalanku sendiri. Sampai sekarang aku belum menemukan cahaya, pemandu, petunjuk jalan, atau apapun itu yang bisa membawaku keluar dari sana. Sebagaimana semua aliran air darimanapun itu, suatu saat pasti akan ke laut.

I’ve been everywhere. I mean, aku sudah pernah pergi menjelajah jauh ke dalam hutan dan menemukan sebuah air terjun yang indah disana. Aku sudah pernah pergi berpetualang ke laut dan menyelam didalamnya. Aku juga sudah pernah mendaki di sebuah gunung dan berdiri di puncaknya. Aku merasa ini bukan jalanku. Tapi aku bersyukur, aku bisa menuliskan hal-hal yang mengagumkan itu dalam cerita hidupku di Book Of 2014.

Ini bukan jalanku. Aku merasa, untuk apa aku menghabiskan atau menikmati waktu untuk diriku sendiri? Bukankah sudah pernah kukatakan kalau kebahagiaaan itu akan nyata saat kita membaginya. Dan saat itulah kita merasa seperti hidup selamanya.

Jujur, awalnya aku adalah type orang yang egois. Itu adalah sifat yang terbawa sejak lahir. Aku berusaha keras untuk merubah keegoisanku. Walau kemungkinan tidak bisa. Karena kita semua tahu bahwa ada sifat yang terbawa sejak lahir itu tidak bisa diubah. Tapi tidak semua. Kadang kita merasa seperti telah diprogram untuk menjadi seperti itu. Tapi tidak ada salahnya mencoba merubah diri menjadi lebih baik, kan? 

Aku akui aku kurang komunikasi denganNya. Aku berfikir, bagaimana caranya aku berkomunikasi dengaNya seperti aku berkomunikasi dengan teman dekatku. Seperti berbagi cerita tanpa mengenal waktu atau apapun itu. 

Setiap hari, aku bercerita kepadaNya. Kujadikan ia sebagai teman baruku. Apapun yang kulakukan, apapun yang kurasakan, dan apapun yang kufikirkan, aku berusaha berkomunikasi denganNya. Jika orang melihatku seperti berbicara pada diri sendiri atau teman khayalanku, tapi aku merasa seperti melihat atau mendengar Ia berada di dekatku atau berbicara kepadaku. Lagipula, kurasa hanya Dia yang lebih bisa mendengar ceritaku baik itu lewat perkataan, lebih bisa mengerti perasaanku dan yang lebih penting Ia lebih bisa memahami diriku. 

Waktu terus berjalan. Sebuah perilaku yang terus menerus diulang secara konsisten telah berubah menjadi kebiasaan. Memang ada kurasa yang berbeda. Aku mendapat sebuah pelajaran. Bahwa hidup itu tentang rasa syukur. Jika kau merasa selama ini hidupmu begitu-begitu saja. Kau melewatinya tanpa ada sesuatu yang bermakna. Hidup tak berarti. Berharap sesuatu yang tak pasti. Bersyukurlah! Perlahan tapi pasti, apapun yang kaulakukan sesuatu itu menjadi penting bagimu. Sesuatu itu memiliki arti tersendiri buatmu. Sesuatu itu menjadi bermakna dalam kehidupanmu. 

Setelah itu kau bila menentukan kemana arah perjalananmu. Ini bukan soal mengetahui apa yang harus kau lakukan. Tapi, melakukan apa yang kau ketahui. Aku menentukan untuk menjadi lelaki seperti apa. Karena, menjadi apapun lelaki itu, baik atau buruk, dia akan merubah dunia.   


“Jika kau tahu cara berenang, kau tak perlu lagi belajar menggunakan dayung untuk mengayuh perahu” – Ryan Hidayat 


Sekarang, aku seperti sudah menemukan cahaya, pemandu, petunjuk jalan, atau apapun itu. Aku fikir, this is the happiest year that happened in my life. Persis seperti yang dikatakannya saat hari ulang tahunku. Aku bersyukur. Aku adalah orang yang beruntung. karena aku merasa hari ini lebih baik dari hari kemarin. 

Selamat Tahun Baru.   



RYAN HIDAYAT

You Might Also Like

0 comment(s)