Ibu
Puisi
Tulisan Modern
Selamat Hari Ibu
Senin, Desember 22, 2014
Makin lama, makin tua saja dia. Tapi, saat kau ajak dia bergurau, ia merasa seperti tujuh belas tahun. Saat kau melihat senyumnya, mendengar gelak tawanya, kau juga akan merasa nyaman bila berada didekatnya.
Aku suka saat ia menyentuh dan membelai luka di kakiku. Rasa sakit yang diakibatkan oleh goresan pisau tajam dapat menyembuhkanku dengan tangannya. Hanya dengan tangannya sendiri. Tanpa harus membeli obat yang mahal di apotik dekat pasar yang penuh dengan orang-orang yang sangat sibuk dengan barang dagangannya. Betapa beruntungnya kau saat kau terluka ada seseorang yang menemanimu disana.
Aku suka saat ia memelukku dengan erat dan membiarkan air mataku membasahi bahunya. Rasa sakit yang diakibatkan oleh kesedihan yang mendalam, kekecewaan, patah hati, ataupun itu yang bisa membuat hatimu terluka bisa berkurang dengan pelukannya. Hanya dengan pelukannya. Hangat. Tanpa harus bercerita kepada psikiater yang dengan percaya bisa menyembukan lukamu dan mengatakan, “Itu bukan salahmu.” Betapa beruntungnya kau saat hatimu terluka ada yang mau memberikan tempat untuk bersandar dengan tulus, setulus hati seorang ibu kepada anaknya.
Tak ada yang sehebat dia. Taka da seorang pun yang bisa menandinginya. Dia tak bisa digantikan. Karena kau tahu, tak ada pengganti yang bisa digantikan. Betapa beruntungnya kau saat masih memiliki dia saat orang lain hanya bisa bertemu dengannya lewat mimpi. Sedih rasanya, saat kau membencinya karena dia tak begitu sempurna bagimu. Jangan menyalahkannya. Menerima, memaafkan, melupakan, tidaklah sesulit itu.
Makin lama makin tua saja dia. Tak terhitung sudah berapa banyak kenangan yang sudah terlewati. Saat kau cium aroma tubuhnya, saat kau jamah tangannya, mungkin ada kau rasa yang berbeda. Tapi, saat kau mengatakan Selamat Hari Ibu kepadanya, mungkin juga ia merasa seperti kembali ke masa mudanya.
0 comment(s)