Bukan Lelucon
Senin, Maret 07, 2016
Dia fikir aku sedang membuat lelucon saat aku mengatakan aku jatuh hati padanya. Dia tidak tahu sedamba apa aku padanya. Tapi saat aku mulai menjelaskan dia mana mendengarkan, saat aku mulai mengutarakan dia mana mengerti, dan saat aku mengungkapkan dia mana memahami. Itu bukanlah suatu kebodohan. Tapi itu adalah sebuah kelemahan. Dan aku, sudah lebih dulu menerima kekurangannya.
Biarlah jikalau dia tak pernah mau bila aku menjadi orang yang akan selalu berdiri disampingnya. Tak mengapa bagiku. Harinya akan tiba saat dia sadar ada seseorang yang betapa besar perjuangannya, perjuangannya yang amat tulus dan tak pernah dia dapatkan lagi dari siapapun dan sampai kapanpun.
Namun jangan pernah salahkan aku yang pernah menaruh perasaanku padanya. Aku adalah aku. Seseorang yang terlanjur jatuh hati kepadanya, yang belum juga mampu melepaskan apa yang seharusnya kuikhlaskan. Aku yang tak bisa kemana-mana dan memilih menetap di depan pintu hatinya. Aku yang betah bertahan tertatih-tatih di atas luka-luka.
Aku rela menghabiskan begitu lama waktuku untuk menyia-nyiakan hidupku. Mencintai orang yang sama sekali tidak peduli dengan perasaanku. Aku relakan diriku ini berteman dengan kelelahan, aku terus menerus mencoba menabahkan hatinya. Barangkali dia butuh diperjuangkan dengan lebih lagi.
- Ryan Hidayat
- Ryan Hidayat
0 comment(s)