Jajanan Kotor

Awkay. Kita masih bicara tentang SMA dulu. Jadi, aku tuh orangnya emang suka banget makan. Aku fikir, siapa juga yang nggak suka makan? Kal...

Awkay. Kita masih bicara tentang SMA dulu. Jadi, aku tuh orangnya emang suka banget makan. Aku fikir, siapa juga yang nggak suka makan? Kalau lapar ya makan. Tapi, aku beda. Baru makan, lapar lagi, terus makan lagi –bukan yang hempas datang lagi ya?- seolah-olah perutku tak pernah berhenti lapar. Aku nggak tahu ya kalau itu penyakit atau apa. Tapi aku nggak pernah mau periksa ke dokter karena aku takut suatu saat setelah aku periksa kesehatan dan ternyata aku divonis punya penyakit, aku nggak bisa dong makan sepuasnya, makan apapun itu yang kumau. Jadi aku nikmati selagi bisa.

Kebanyakan orang ya, yang aku lihat, sebagian orang ada yang lapar, dia nggak mau atau takut makan karena alasan takut gendut. Sebagiannya lagi, ada orang yang lapar, dia nggak bisa makan –well, misalnya dia nggak punya uang-. Padahal dia ini udah kelaparan, tapi dia nggak punya makanan. Sedih. Kalau udah gini, dia nggak peduli mau makan apa aja asal bisa makan.

Nah, beda lagi akunya. Aku orangnya nggak pernah berhenti makan. Maunya makaaan terus. Dulu sih nggak teratur makannya. Apa aja masuk. Sekarang udah lebih milih-milih makanan. Misalnya gorengan, seharian temanya harus yang goreng-goreng gitu. Terus kalo makan gorengan kan nggak baik minum es, beda sama air dingin. Terus habis makan juga nggak bagus sih langsung minum teh. Karena nggak bagus sama pencernaan.

Jadi pokoknya punya banyak pengetahuanlah tentang makan yang baik meskipun berlebihan. Secara tidak langsung kita tetap menjaga kesehatan. Betul kan?
Jadi, waktu SMA dulu kantin kita itu sempit banget. Tapi bisa sih pas istirahat kita bawa makanan gitu ke kelas.

Nah, semenjak ada kaki lima yang jual sate, batagor, sama jual pecel keliling gitu di depan sekolah. Kita kan anggak boeh keluar pagar ya di jam sekolah. Jadi pas istirahat, halaman depan sekolah udah rame banget kaya mau takbiran. Ia soalnya, ada nih pembeli yang pesanannya lama banget datangnya dan kebetulan dia laper banget, terus kesabarannya udah hampir habis kali ya makanya dia teriak-teriak nggak jelas “Allahu Akbaaaarrr… Allahu Akbaaaaaarr…”

Tapi, pihak sekolah punya semacam ide cemerlang. Kenapa semacam ide cemerlang? Karena sekolah kita itu punya peraturan yang ketatnya minta ampun. Kalau kamu pernah ke Singapore, nggak beda jauhlah sama sekolah kita. Sekolah kita punya 1001 larangan. –don’t ask. It’s just an expression-

Ide cemerlang yang tadi aku bilang termasuk meminimalisir keramaian karena semua pedagang kaki lima sama pedagang keliling itu diizinkan berjualan di lingkungan sekolah dan di kasih tempat walaupun nggak khusus ya?

Nah, semenjak kejadian itu, aku jadi pengen coba semua makanan sekaligus. Seolah-olah aku itu berimajinasi sedang mencoba kuliner di Indonesia –ya, ampun! kamu malu-maluin banget ya, ryan.-

Sejak saat itu juga, temen-temen aku ngatain aku “perut karet”. Aku sedih. Tapi aku nggak peduli karena aku suka makan dengan cara seperti itu. Lalu orang mau berkata apalagi?

Nah, pas pulang sekolah beda lagi. Aku punya temen ya yang punya hobi yang sama kaya aku. Ada beberapa sih dulu. Namanya Erlina Sari Lubis. Kalau nggak salah, aku udah pernah cerita tentang dia di tulisanku sebelumnya. She’s my bestfriend.

Setiap kita pulang sekolah, di sekitar sekolah ada lagi pedagang kaki lima. Mereka nggak masuk ke daftar nominasi pedagang yang diizinkan masuk ke lingkungan sekolah karena memang mereka juga bukanya atau datangnya mulai dari jam 11AM ke atas, sampai sore karena anak-anak dari kelas unggulan masih ada mata pelajaran tambahan. –aku? nanti aku bahas. Judulnya XI IPS 3”

Nah, Erlina ini sebenarnya hobi makan banget. Tapi dia mulai agak sedikit ragu karena dia punya masalah sama berat badan. Tapi, aku rasa berat badan dia masih diambang batas normal kok. Serius. Tapi, kita tetap aja masih suka jajan-jalan gitu. Pas pulang sekolah kita beli “Jajanan Kotor”. Jajanan kotor bukan berarti jajan kita kotor ya? Aku sih yang mencetuskan jajanan kotor karena berani kotor itu, baik –eh-.

Gini deh, coba deh pikir. Kenapa ya? Orang yang –maaf- ekonominya menengah kebawah itu atau yang paling parah, sangat sederhana banget, punya atau seringkali makan makanan yang kurang bersih tapi mereka sehat-sehat aja dan paling yang kena masalah itu karena mereka nggak makan berhari-hari. Sedangkan orang yang ekonominya menengah ke atas, udah makanan mahal, mewah, super bersih juga, tapi malah kebanyakan dari mereka punya penyakit yang berbahaya, sampai kalo mau makan pake selang segala?

Itu sih yang ada difikiranku.

Awkay. Balik lagi ke topik.

Jajanan kotor kita macem-macem. Karena memang mulut kita berdua sama rakusnya –HAHAHAHAHAACCK UHUK UHUKK UHUKK-. Kita beli pisang molen, bakso bakar, roti cakwe, dadar gulung, batagor, terus kita juga makan mie ayam. Yang batagor aku nggak terlalu suka ya? Erlina sih yang suka.

Kita makan jajanan kotor itu di basecamp. Jadi saking kita seringnya makan jajanan kotor, kita memutuskan untuk singgah sebentar untuk membalaskan dendam yang telah tertanam semenjak bel tertanda masuk ke kelas dikumandangkan di pagi hari.

Kita punya basecamp –eits- di depan sekolah itu, tepat di depan sekolah ada jembatan layang. Khusus untuk siswa sekolah karena di depan sekolah itu seringkali terjadi kecelakaan. Tapi, sayangnya jembatan itu tidak terlalu digunakan dengan baik. Kalaupun digunakan, ada sebagian orang yang menggunakannya dengan cara yang salah. Misalnya, jembatannya itu penuh sampah plastik, kertas dan juga, bekas botol minuman keras.

Nah, ditangga paling atas itu kita sering duduk dan kita sering bilang kalau itu basecamp kita. Selesai kita habisin makanan kita, beberapa menit kemudian kita langsung cabut ke warung bakso langganan kita. Soalnya disana enak. Udah enak, kita sering banget dikasih bakso tambahan satu biji.

Jadi pernah ya? Kita beli mie ayam bakso. Aku nggak terlalu ingat, mungkin karyawan baru atau bosnya lagi di situ, dia ngasih porsinya itu sedikit banget. Tapi kita nggak kehilangan ide walaupun kita sudah merengek manja –eh, aku bukan ngegoda abang tukang bakso ya? Jangan salah sangka dulu- kita berdua punya ide cemerlang beli bakso bakar tapi yang masih polos gitu belom di kasih saos dan dibakar, bakso itu kita beli dan kita makan deh warung bakso itu. Aduh. Itu kenangan yang memorable banget buat aku. 




You Might Also Like

0 comment(s)