Kisah Yang Pantas Untuk Diceritakan
Jajanan Kotor
Selasa, Maret 22, 2016
Awkay.
Kita masih bicara tentang SMA dulu. Jadi, aku tuh orangnya emang suka banget
makan. Aku fikir, siapa juga yang nggak suka makan? Kalau lapar ya makan. Tapi,
aku beda. Baru makan, lapar lagi, terus makan lagi –bukan yang hempas datang
lagi ya?- seolah-olah perutku tak pernah berhenti lapar. Aku nggak tahu ya kalau
itu penyakit atau apa. Tapi aku nggak pernah mau periksa ke dokter karena aku
takut suatu saat setelah aku periksa kesehatan dan ternyata aku divonis punya
penyakit, aku nggak bisa dong makan sepuasnya, makan apapun itu yang kumau. Jadi
aku nikmati selagi bisa.
Kebanyakan
orang ya, yang aku lihat, sebagian orang ada yang lapar, dia nggak mau atau
takut makan karena alasan takut gendut. Sebagiannya lagi, ada orang yang lapar,
dia nggak bisa makan –well, misalnya dia nggak punya uang-. Padahal dia ini
udah kelaparan, tapi dia nggak punya makanan. Sedih. Kalau udah gini, dia nggak
peduli mau makan apa aja asal bisa makan.
Nah,
beda lagi akunya. Aku orangnya nggak pernah berhenti makan. Maunya makaaan
terus. Dulu sih nggak teratur makannya. Apa aja masuk. Sekarang udah lebih
milih-milih makanan. Misalnya gorengan, seharian temanya harus yang
goreng-goreng gitu. Terus kalo makan gorengan kan nggak baik minum es, beda
sama air dingin. Terus habis makan juga nggak bagus sih langsung minum teh.
Karena nggak bagus sama pencernaan.
Jadi
pokoknya punya banyak pengetahuanlah tentang makan yang baik meskipun
berlebihan. Secara tidak langsung kita tetap menjaga kesehatan. Betul kan?
Jadi,
waktu SMA dulu kantin kita itu sempit banget. Tapi bisa sih pas istirahat kita
bawa makanan gitu ke kelas.
Nah,
semenjak ada kaki lima yang jual sate, batagor, sama jual pecel keliling gitu
di depan sekolah. Kita kan anggak boeh keluar pagar ya di jam sekolah. Jadi pas
istirahat, halaman depan sekolah udah rame banget kaya mau takbiran. Ia
soalnya, ada nih pembeli yang pesanannya lama banget datangnya dan kebetulan
dia laper banget, terus kesabarannya udah hampir habis kali ya makanya dia
teriak-teriak nggak jelas “Allahu Akbaaaarrr… Allahu Akbaaaaaarr…”
Tapi,
pihak sekolah punya semacam ide cemerlang. Kenapa semacam ide cemerlang? Karena
sekolah kita itu punya peraturan yang ketatnya minta ampun. Kalau kamu pernah
ke Singapore, nggak beda jauhlah sama sekolah kita. Sekolah kita punya 1001
larangan. –don’t ask. It’s just an expression-
Ide
cemerlang yang tadi aku bilang termasuk meminimalisir keramaian karena semua
pedagang kaki lima sama pedagang keliling itu diizinkan berjualan di lingkungan
sekolah dan di kasih tempat walaupun nggak khusus ya?
Nah,
semenjak kejadian itu, aku jadi pengen coba semua makanan sekaligus. Seolah-olah
aku itu berimajinasi sedang mencoba kuliner di Indonesia –ya, ampun! kamu
malu-maluin banget ya, ryan.-
Sejak
saat itu juga, temen-temen aku ngatain aku “perut karet”. Aku sedih. Tapi aku
nggak peduli karena aku suka makan dengan cara seperti itu. Lalu orang mau
berkata apalagi?
Nah, pas
pulang sekolah beda lagi. Aku punya temen ya yang punya hobi yang sama kaya
aku. Ada beberapa sih dulu. Namanya Erlina Sari Lubis. Kalau nggak salah, aku
udah pernah cerita tentang dia di tulisanku sebelumnya. She’s my bestfriend.
Setiap
kita pulang sekolah, di sekitar sekolah ada lagi pedagang kaki lima. Mereka
nggak masuk ke daftar nominasi pedagang yang diizinkan masuk ke lingkungan
sekolah karena memang mereka juga bukanya atau datangnya mulai dari jam 11AM ke
atas, sampai sore karena anak-anak dari kelas unggulan masih ada mata pelajaran
tambahan. –aku? nanti aku bahas. Judulnya XI IPS 3”
Nah,
Erlina ini sebenarnya hobi makan banget. Tapi dia mulai agak sedikit ragu
karena dia punya masalah sama berat badan. Tapi, aku rasa berat badan dia masih
diambang batas normal kok. Serius. Tapi, kita tetap aja masih suka jajan-jalan
gitu. Pas pulang sekolah kita beli “Jajanan Kotor”. Jajanan kotor bukan berarti
jajan kita kotor ya? Aku sih yang mencetuskan jajanan kotor karena berani kotor
itu, baik –eh-.
Gini
deh, coba deh pikir. Kenapa ya? Orang yang –maaf- ekonominya menengah kebawah
itu atau yang paling parah, sangat sederhana banget, punya atau seringkali
makan makanan yang kurang bersih tapi mereka sehat-sehat aja dan paling yang
kena masalah itu karena mereka nggak makan berhari-hari. Sedangkan orang yang
ekonominya menengah ke atas, udah makanan mahal, mewah, super bersih juga, tapi
malah kebanyakan dari mereka punya penyakit yang berbahaya, sampai kalo mau
makan pake selang segala?
Itu sih
yang ada difikiranku.
Awkay.
Balik lagi ke topik.
Jajanan
kotor kita macem-macem. Karena memang mulut kita berdua sama rakusnya
–HAHAHAHAHAACCK UHUK UHUKK UHUKK-. Kita beli pisang molen, bakso bakar, roti
cakwe, dadar gulung, batagor, terus kita juga makan mie ayam. Yang batagor aku
nggak terlalu suka ya? Erlina sih yang suka.
Kita
makan jajanan kotor itu di basecamp. Jadi saking kita seringnya makan jajanan
kotor, kita memutuskan untuk singgah sebentar untuk membalaskan dendam yang
telah tertanam semenjak bel tertanda masuk ke kelas dikumandangkan di pagi
hari.
Kita
punya basecamp –eits- di depan sekolah itu, tepat di depan sekolah ada jembatan
layang. Khusus untuk siswa sekolah karena di depan sekolah itu seringkali
terjadi kecelakaan. Tapi, sayangnya jembatan itu tidak terlalu digunakan dengan
baik. Kalaupun digunakan, ada sebagian orang yang menggunakannya dengan cara
yang salah. Misalnya, jembatannya itu penuh sampah plastik, kertas dan juga,
bekas botol minuman keras.
Nah,
ditangga paling atas itu kita sering duduk dan kita sering bilang kalau itu
basecamp kita. Selesai kita habisin makanan kita, beberapa menit kemudian kita
langsung cabut ke warung bakso langganan kita. Soalnya disana enak. Udah enak,
kita sering banget dikasih bakso tambahan satu biji.
Jadi
pernah ya? Kita beli mie ayam bakso. Aku nggak terlalu ingat, mungkin karyawan
baru atau bosnya lagi di situ, dia ngasih porsinya itu sedikit banget. Tapi
kita nggak kehilangan ide walaupun kita sudah merengek manja –eh, aku bukan
ngegoda abang tukang bakso ya? Jangan salah sangka dulu- kita berdua punya ide
cemerlang beli bakso bakar tapi yang masih polos gitu belom di kasih saos dan
dibakar, bakso itu kita beli dan kita makan deh warung bakso itu. Aduh. Itu
kenangan yang memorable banget buat aku.
0 comment(s)