Sebutir Pasir

Aku berhenti sebentar untuk memikirkan kembali hidupku. Aku sadar selama ini aku berlaku tidak jujur kepada diriku sendiri. Aku membiarka...



Aku berhenti sebentar untuk memikirkan kembali hidupku.

Aku sadar selama ini aku berlaku tidak jujur kepada diriku sendiri. Aku membiarkan orang lain mendiktekan kepadaku tentang siapa aku dan akan menjadi apa. Padahal semua makhluk hidup diciptakan Tuhan lahir dengan tujuan masing-masing yang sudah digariskan. Entah bagaimana, sepertinya aku telah kehilangan tujuanku. Aku merasa tenggelam lebih dalam lagi. Aku merasa rapuh. Mungkin, aku terlalu bebas. Itulah sebabnya aku tersesat.

Dari kejauhan, orang lain memang tak akan melihat betapa lelahnya diriku. Tak seorang pun meluangkan waktu menanyakan kabarku. Orang-orang disekitarku malah terus memberikan saran, bukan pertolongan. Aku jadi merasa seperti sebutir pasir di dasar samudera yang tak terjangkau cahaya matahari. Tak seorang pun merasa perlu mencari aku, atau sekedar mengetahui aku ‘disana’.

Sebagian besar hidupku terasa seperti tidak ada artinya. Ketakutan yang berlebihan membuatku tak mampu menjalani hidup dengan baik. Aku kerap membuat berbagai keputusan keliru karena ketakutan. Aku takut mengambil keputusan yang ada, tak berani berdiri tegak sebagai diriku, dan menunjukkan siapa aku kepada orang lain.

Bagaimana jika ketakutan yang telah mengoyakku setiap hari bisa menguap seperti embun terkena sinar matahari? Apakah rasa takut ini tumbuh dari pikiran tentang sosok gelap yang akan menyakitiku saat mematikan lampu? Apakah orang-orang yang telah melalui apa yang kini kurasakan memiliki jawaban yang kubutuhkan?

Bagaimana jika akhirnya aku mampu mendapatkan semua jawaban yang kucari dan mengurai rahasia-rahasia yang terkubur dalam hatiku?



You Might Also Like

0 comment(s)