Minggu, November 30, 2014
Jurnal Mendaki
Minggu, November 30, 201413.48PM Hi! This is me, RYAN HIDAYAT and you know it. Hari ini tanggal 15 November 2014 dan hari ini aku ada event mendaki di Gunung Merapi,...
13.48PM
Hi! This is me, RYAN HIDAYAT and you know it. Hari ini tanggal 15 November 2014 dan hari ini aku ada event mendaki di Gunung Merapi, kab. Agam, West Sumatera. Wait, did you not know that? I mean, you guys didn’t know dimana Gunung Merapi? Go figure it out on the internet!
Semalam aku udah bicara ke temenku, aku ingin mendaki. Ini bukan kali pertama aku mendaki. Ya, walau aku akui yang aku daki sebelumnya bukanlah sebuah gunung. Melainkan sebuah bukit. Tapi, aku banyak belajar dari sana.
And now, I’ll do it. Trust me, I can do it. Diam-diam aku banyak berlatih. Yang paling penting dari semua bagiku adalah latihan pernapasan –aku ada masalah dengan paru-paru. Ssstt. Jangan bilang siapa-siapa-. Latihan fisik juga, teman. Seperti lari kecil atau lari ditempat juga bisa. Aku push-up, sit-up, and scot jump. Oh, scot jump untuk membuat kaki kita kuat mendaki, aku harap kalian paham dengan itu.
Semalam aku udah bicara ke temenku. Dia kirim pesan barang apa aja yang mesti dibawa, dia bilang baju hangat yang banyak, senter, snack, roti, dan makanan buat semalaman, kaus kaki, sendal gunung, dan terakhir sepatu. I have all this stuff. Okay, aku nggak punya kaus kaki, jadi aku beli dulu ke pasar raya.
Baju hangat. Aku punya enam buah baju hangat disini. Dan aku bawa tiga, setengah dari semua milikku. Senter. Aku juga ga punya senter. Tapi aku ganti dengan mancis yang ada senternya. Sebenarnya itu ga boleh. Mancis yang ada senternya itu cuma bisa buat jaga-jaga. Snack, roti, dan makanan buat semalaman. I have sunflower seeds, pop mie, super bubur satu bungkus, madu, dan obat-obatanku. Sendal gunung. No. Aku pake sepatu. Hati-hati milih sepatu pas mendaki, jangan pilih sepatu high heels setinggi 17cm. Sepatu yang kaya begituan bakal bikin kamu susah jalan. Pilih sepatu yang taat beribadah, yang setiap ada masalah bakalan tabah serta sabar untuk menjalaninya #tips
Don’t mind.
Maksudku, pilih sepatu yang tahan terhadap air. Jangan pilih sepatu yang punya telapak halus, pilih yang kasar. Usahakan sepatu yang kamu pilih tidak memakai tali –seniorku bilang gitu-. And, before we start it, I just wanna say, LET’S DO IT!!!
Dari Padang aku berangkat ke Bukit Tinggi sekitar pukul 13.48PM dengan menggunakan motor. Hari itu mendung sih. Yang aku takutkan adalah bukan hujan disaat perjalanan. Tapi di saat mendaki. Terus jalur kita bakal becek jadinya. Licin. Nah, itu. Tapi ya Alhamdulillah, selama perjalanan tidak turun hujan. Nyampe di kota, malah hujan. Orang orang banyak yang mencari tempat untuk berteduh. Ada sebuah kampus yang sedang ramai dikunjungi pasa wisatawan. Terlihat dari banyak sekali bus-bus yang berbaris menepi. Semoga hari ini berhasil. Semoga aku bisa. Dan semoga hari ini Tuhan berada di pihak kita.
Selama di kota aku pergi melihat beberapa mahasiswa baru dari luar kota sedang mengadakan acara di sebuah aula kampus. Aku juga pergi melihat pemandangan di pusat kota Bukit Tinggi, Jam Gadang. Banyak sekali orang di sana. Ada pedagang yang meletakkan dagangannya di pinggir jalanan, ada pedagangn kaki lima yang menggiurkan di lidah, ada tukang photographer jalanan yang menyewakan cameranya untuk mengambil beberapa foto kenangan, ada juga toko souvenir, dan pusat perbelanjaan seperti supermarket dan mall.
Ada sebuah grup music keroncong sedang menghibur para wisatawan yang kebetulan lewat disana. Aku sempat mengabadikan beberapa moment disana.
8.14PM
Dari kota Bukit Tinggi, aku berangkat bersama beberapa teman disini. Kita berangkat sekitar 5 orang termasuk aku. Sebelum berangkat kita punya sedikit masalah disini. Botol air spritus yang kebetulan terbuat dari kaca, pecah. Jadi kita mengganti botol kaca itu dengan botol plastik. Dan botol plastic itu sama seperti botol minuman kita. Temanku sempat berfikir, “gimana jadinya jika kita tengah kehausan dan tidak sengaja meminum air spritus itu?” nggak kebayang deh. Mungkin akan ada keajaiban baru di atas sana. Puskesmas keliling mungkin.
Kita berangkat menggunakan sepeda motor. Perjanan memakan waktu sekitar ± 20menitan. Kita berhenti sejenak di pasar Koto Baru namanya. Kita membeli perlengkapan kemah. Dan aku beli mancisku disana. Aku juga membeli raincoat untuk jaga-jaga pas mendaki. Boleh jadi hujan saat kita mendaki, kan?
Kemudian kita langsung take off ke Pos Pendakian dimana setiap para pendaki wajib mendafkarkan dirinya. I don’t know. Yang aku pikirkan saat itu adalah, kita tidak tahu hal apa yang kan terjadi di atas sana, dan kita akan mudah dikenali jika telah menuliskan nama kita di atas kertas berisikan nama-nama pendaki lain. Setelah memarkirkan kendaraan kita dan mendaftarkan diri, sekitar pukul 8.14PM kita mulai perjalanan kita.
"Yang diperlukan disini adalah kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari pada biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang lebih sering melihat keatas, lapisan tekat yang lebih keras dari lapisan seribu baja, hati yang bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.'' - 5cm
Di awal perjalanan cukup memanjakan kaki. Jalanan terbuat dari aspal. See, tak ada yang perlu dicemaskan.
Mungkin sekitar sepuluh sampai lima belas menit berjalan, baru deh, jalanan mulai berubah sebagaimana mestinya. Karena disana baru saja diguyur hujan, jalanan agak berlumpur dan jadi becek. Tapi untungnya ada banyak batu-batu kecil yang membuat tanah menjadi sedikit padat. Dan memudahkan kita untuk melangkah lebih leluasa.
8.50PM
Ada sebuah tempat seperti rumah memiliki halaman yang luas. Orang-orang menyebutnya BKSDA. Beberapa orang yang telah mendahului tempat itu ada yang mendirikan tenda di halamannya. Ada juga yang membakar api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka dan juga memasak makanan untuk menambah stamina. Beberapa dari mereka ada yang memainkan gitar dan bernyanyi. membuat suasana hangat yang semakin dingin. Kita bercerita. Bercanda dan tertawa.
Ada beberapa hal yang harus kalian tahu. Aku tidak sedang berusaha menakut-nakuti kalian. Mungkin ini bisa disebut sebagai motivasi. Yang pertama, akan ada saat dimana kalian meragukan kemampuan kalian sendiri dan disana juga akan selalu ada orang yang ‘membenarkan’ keraguan kalian itu. Padahal kalian tahu itu salah. Yakin sajalah pada diri kalian sendiri. Kalian ingat cerita semut tuli? Jangan pernah mendengar apa kata orang lain. Yakinkan diri bahwa kalian itu bisa. Kalian bisa melakukan apa yang ingin kalian lakukan. Satu lagi, never be afraid!
Look! Kita pasti butuh orang-orang yang mendukung kita apapun yang kita lakukan. Bahkan disaat kita sedang berada di titik terendah kita, kita butuh seseorang untuk memberikan suatu yang positif atau motivasi diri agar kita terus bangkit dan melanjutkan perjalanan yang telah kita mulai. Ingat! Strong people don’t put others down. They lift them up.
9.37PM
Sebenernya banyak tempat pemberhentian disana atau tanah yang lumayan datar untuk istirahat. Mungkin untuk mendirikan tenda atau sekedar makan. Setiap kita melintasi para pendaki lain yang sedang istirahat, kita harus ngucapin, “Permisi, Pak! Permisi, Bu!” atau “Dulu, Pak! Dulu, Bu!” dan akan ada balasan seperti, “Ia. Semangat.” Atau “Hati-hati, Pak! Hati-hati, Bu!”
Ada juga tempat, kalau nggak salah namanya padang bambu. Jadi saat kita mendaki di sebelah kiri dan sebelah kanan kita bambu semua. Denger kabar bahwa disana tempat paling seram di antara semuanya. Ada cerita waktu itu aku dengar di radio. Ada pendaki bawa tas carrier dan di naikin sama –yang percaya sama hal gaib- katanya Kuntilanak gitu. Hal yang mesti kita lakukan saat itu adalah ‘pura-pura tidak tahu’ terus saja berjalan. Oke. Mungkin sulit untuk berpura-pura tidak tahu. Tapi usaha dulu. Pasti mudah kok. Jangan terlalu dipikirin.
Sekitar pukul 9.37PM kita berhenti juga akhirnya untuk makan malam. Sekalian mengambil persedian air kita yang udah mulai habis. Kebetulan memang ada sebuah sumber air yang jaraknya ± 50m. ada petunjuknya ditempel di salah satu pohon. Dan kebetulan juga yang ambil air bukan aku. Jadi aku nggak bisa cerita gimana cara kita mesti ngambil air.
Kita makan. Hal yang paling penting saat membawa bekal di atas gunung adalah yang pertama, jangan pernah memadukan nasi dan lauk. Apalagi makanan yang berminyak. Nasi menjadi cepat basi. Kecuali nasi akan dimakan dalam waktu dekat [mungkin sekitar satu jam]. Jadi tidak ada yang mesti dikhawatirkan. Hal yang kedua, kerupuk. Bagi yang nggak suka kerupuk, kerupuk tiba-tiba menjadi teman yang setia saat kelaparan. Coba saja! Pasti ntar ketagihan. Saat mendaki, siapkan satu botol minuman yang mudah dibawa. Agar saat mendaki, tidak susah untuk menggapainya. Buka tas dulu, gitu. Kalo haus ‘kan mudah diambilnya.
Hal yang kedua setelah kita meyakini bahwa kita bisa, kita bisa mengirim pesan ke alam bawah sadar kita saat mendaki. Saat kita lelah dan berfikir kita tak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan atau yang lebih parah adalah kita ingin pulang. Kita bisa mengirim pesan ke alam bawah sadar kita bahwa akan sampai. Jadi istilahnya kita menipu diri kita sendiri dan aku telah mencobanya, it works. Aku memang bukan seorang peneliti yang mencoba suatu hal dan berhasil. Lalu aku menyarankan kepada kalian untuk mencobanya dan hasilnya tidak sama seperti yang terjadi padaku. Well, setidaknya kita pernah mencoba.
Setelah selesai makan dan menambah persediaan air, Kita melanjutkan perjalanan. Mungkin kalau dihitung sekitar 13 kali kita berhenti karena lelah. Sampai akhirnya kita sampai di Cadas. Cadas itu tempat orang-orang mendirikan tenda. Tempat yang sebenarnya mendirikan tenda.
Sebelum kita mendirikan tenda, aku ketemu sama salah seorang temen dari temenku. Dia seorang pencinta alam. Dan suatu kebanggaan tersendiri bagiku bertemu dengannya saat pertama kali aku mendaki. Aku banyak belajar dari dia. Dia orang terhebat dan terkreatif yang pernah aku temui. Dia nyusul kita di Cadas dalam waktu satu setengah jam. Dan kita mendaki samapi ke Cadas sekitar 5 jam. That’s awesome.
Kita sampai ke Cadas kira-kira sekitar pukul 2:00AM kita mendirikan tenda, makan lagi, lalu tidur. Kita istirahat sekitar 4 jam karena cuaca udah mulai terang saat itu. Kita bangun pukul 5:49AM. Aku bangun karena kedinginan. Dari Cadas a.k.a tempat istirahat kita, kita pergi ke puncak Gunung Merapi. I MADE IT!!! RYAN HIDAYAT was in Puncak Gunung Merapi, Kab. Agam, Sumatera Barat at November 16th, 2014. I feel like I’m lost in Paradise up there.
******
Nah, inilah jurnal mendaki pertamaku. Aku menulis jurnal ini karena aku membaca sebuah inspirasi saat mendaki. Isinya begini “Hidup Takkan Berarti Tanpa Ilmu, Iman, dan Pengalaman.”
Sekarang rasanya hidupku lebih berarti dan aku bisa menceritakan hal ini kepada keturunanku suatu saat nanti. Dan aku ingin mengajarkan kepada mereka bahwa, “Waktu itu berharga”
- RYAN HIDAYAT
- RYAN HIDAYAT


