Hujan

Tepat dua tahun yang lalu saat kenangan itu mulai tertulis di lembaran kosong dan masih belum bertulisan. Dan sekarang kenangan itu bagaika...

Tepat dua tahun yang lalu saat kenangan itu mulai tertulis di lembaran kosong dan masih belum bertulisan. Dan sekarang kenangan itu bagaikan sebuah omong kosong yang tak berarti apa-apa.

Jalan yang kita lewati ini masih menebarkan bau basah. Daun-daun yang berguguran berserakan dimana-mana. Tetesan air jatuh tepat di atas kepalamu. Mengalir turun ke pipimu yang merah merona sewaktu kulihat tingkahmu saat itu. Kau pemalu.

Kita berteduh saat hujan berusaha membasahi kita. Sama seperti saat hujan berusaha membasahi jalanan yang kita lewati. Dan aku berdiri tepat disampingmu. Aku kedinginan. Seharusnya kau peluk aku saat itu. Aku ingin dipeluk. Tapi kau mencari kayu bakar untuk menghangatkan tubuh kita. Duduk bersebelahan menatap api yang membakar habis kayu itu. Tak ada kata. Tak ada cerita. Kau membuatku lelah menunggu hingga semua berubah menjadi abu yang melayang di udara.

Jalan yang kita lewati ini masih menebarkan bau basah. Tapi kita berbaring disana. Membiarkan pakaian kita kotor. Berlumpur. Air yang mengalir ternyata membersihkan diri kita. Dan membiarkan kulit kita terbakar terik matahari siang itu. Panas. Awan kelabu ternyata melindungi kita. Hujan.
Hujan.

Kita masih sempat berpelukan sebelum kita akhirnya berpisah. Kau juga sempat menggendongku saat aku terjatuh dari pohon yang sengaja kupanjat agar bias memberikanmu seikat kayu bakar untuk menghangatkan tubuh kita. Ingat? Kita masih sempat berpelukan sebelum akhirnya kita berpisah. Tepat di tengah hujan deras membasahi pipi kita. Pipiku. Pipimu. Pipi kita berdua.

Segalanya memang tentang hujan. Dan kau tak pernah tahu aku menyembunyikan perasaan itu. Selalu saja saat awan kelabu itu datang, aku berharap kau berada sangat dekat denganku. Duduk bersebelahan seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya. Selalu saja saat hujan deras turun, aku juga berharap kau berada sangat dekat denganku. Berdiri memelukku seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya. Kira-kira sekitar dua tahun yang lalu. Aku menghitungnya.

Tepat dua tahun yang lalu saat kenangan itu mulai tertulis di lembaran kosong dan masih belum bertulisan. Dan sekarang kenangan itu bagaikan sebuah omong kosong yang tak berarti apa-apa.


You Might Also Like

0 comment(s)