Buku Catatan

Kali ini aku nggak posting puisi ataupun tulisan modern. Aku menyebutnya ‘Digital Diary’. Tapi, nggak kaya diary yang ditulis di buku kok. L...

Kali ini aku nggak posting puisi ataupun tulisan modern. Aku menyebutnya ‘Digital Diary’. Tapi, nggak kaya diary yang ditulis di buku kok. Lagi pula tidak ada rahasia disini. Ini hanyalah cerita sehari-hari. Dan hari itu aku mendapat sebuah pelajaran dari temenku. Jadi begini ceritanya…

November 1st
Malem itu aku banyak cerita ke temenku, Ainul Marhamah. Kita cerita apa aja yang melintas di kepala. Mulai dari awal pembicaraan orang yang lagi PDKT a.k.a ‘udah makan belom?’ sampai kita cerita tentang horror. Aku suka banget sama cerita yang beginian. Tapi dia nggak suka. Dia sukanya sama korea gitu. Dan sebaliknya, aku nggak suka korea.

Terus dia nanya aku lagi ngapain dan kenapa nggak nulis. Lalu aku jawab, aku lagi nggak ada inspirasi. Kadang aku dapat inspirasi di saat yang tidak tepat. Di saat aku sedang tidak ada gairah untuk nulis. Pas mau nulis, aku lupa apa-apa saja hal yang akan aku tulis. Aku orangnya pelupa. Lalu dia saranin beli buku catatan gitu. Yang mudah dibawa kemana-mana supaya aku bias nulis dimanapun dan kapanpun saat inspirasi itu datang dan biar aku nggak lupa lagi. Dia juga nyaranin kalau aku harus makan permen karet, katanya itu bias meningkatkan konsentrasi. Aku fikir saran itu terdengar bagus. Besoknya, aku pergi ke toko buku.

November 2nd
Sore itu hujan akan turun. Seperti biasa. Bisa kuprediksi dari hitam pekatnya awan di langit sana. Tapi aku tetap ingin pergi ke toko buku itu. Sudah lama sekali rasanya aku tidak membaca dan ingin segera memiliki beberapa koleksi terbaru. Kudengar kabar bahwa ada seorang artis sedang mencoba menulis dan menerbitkan buku pertamanya dan ada pula penulis lama yang baru saja menerbitkan buku terakhirnya. Rasanya aku tidak ingin ketinggalan. Ingin kubeli kedua buku itu.

Tepat di depan took buku, hujan belum juga memberi tanda bahwa ia akan segera turun. Tapi aku tak peduli. “Aku sampai juga akhirnya.” Fikirku.

******

Tunggu! Sebelum aku lanjut cerita, ada hal yang harus pembaca tahu. Sebenarnya aku juga punya cerita ketika aku beli buku catatanku ini. Tapi, let me know if you want me to tell you what my story is, guys. I met somebody. And she’s different from anybody I know. That’s a clue.

******

Sudah sekitar 4 jam aku ada di took buku itu. Dan aku pulang membawa buku catatan baru. Warnanya kuning agak kecoklatan. Aku juga baru sadar warnanya sama persis seperti baju milikku yang aku pakai waktu 17an dulu. That’s awesome.

And now, aku udah punya buku catatan baru seperti yang dikatakan temenku. Masalah yang aku hadapi sekarang ini adalah, aku sangat suka buku catatanku dan aku takut sekali untuk mengotorinya. Aku bahkan tidak merobek bungkusnya selama 2 hari berturut-turut. Aku bersusah payah mencari buku yang terbaik yang ada di toko buku itu. Aku mencarinya lebih dari 30menitan. I’m serious. Lalu temen kubilang, aku harusnya mencari buku yang biasa saja agar tidak terlalu tega menodainya. Aku balas, aku tidak suka hal yang biasa. Lalu dia berkata lagi...
 “kau bukannya hendak ingin menodai dia (notes), yan. Kau hanya sekedar berbagi cerita dengannya. Membuat dia berwarna dan menjadikan dia sebagai yang pertama kali mendengar keluh kesahmu di saat kau ingin bercerita.” – Ainul Marhamah

Oh, aku sangat tersentuh dengan kata-katanya. Dia pernah bilang padaku dia paling tidak suka menulis ataupun mengarang hal apapun. Tapi, lihat apa yang barusan dia katakana padaku! Dari semua tulisanku, aku bahkan tidak bias membuat kata-kata seperti tadi. Dan, dia pernah saranin ke aku kalo blogku perlu sesuatu yang lebih bagus. Kata-kata motivasi mungkin. Aku bilang ke dia, dulu aku sering share motivasi di status facebookku tapi ya you know it. Dan aku fikir tak ada salahnya mencoba. Dan di kesempatan kali ini aku ingin menuliskan hal-hal yang aku pelajari dari buku catatan baruku. I hope you inspired.

“Hidupku seperti sebuah buku dengan lembaran yang masih sepenuhnya kosong dan belum bertulisan. Aku yang berhak menulis seperti apa jalan cerita hidupku. Bagaimana awal dan akhir cerita. Tak peduli seberapa buruk aku menuliskannnya, karena hanya aku yang tahu hal apa yang akan aku tulis.”

“Aku adalah sebuah buku. Tanpa sebuah pena, hidupku terasa kosong.”

“Aku adalah sebuah buku dengan lembaran yang penuh dengan coretan dan ada banyak garis carut-marut di dasarnya. Tanpa sebuah penghapus, tak akan ada tempat untukku memperbaiki kesalahan yang terlanjur terjadi maupun yang akan terjadi.

“Sebuah buku tidak bias hidup tanpa sebuah pena. Sebuah penghapus tercipta karena kesalahan sebuah pena. Buku, pena, dan penghapus hidup berdampingan. Mereka selalu bersama. Tak bias terpisah. Apa jadinya sebuah buku tanpa coretan?”

Well, aku pikir cuma itu yang bias aku tulis meski di kepalaku masih ada banyak kata yang meminta untuk keluar dari dalam sana. 



You Might Also Like

0 comment(s)