Ma Journey on 2015
Jumat, Januari 01, 2016
Well, aku
memulai awal tahun dengan ini dengan sempurna. Aku terjaga di pagi hari dan tak
mau tahu apa yang akan terjadi, siapa yang akan kutemui, atau kemana aku akan
pergi. Lusa aku terjatuh di jurang yang hampir bisa dibilang tanpa dasar.
Kemarin aku belajar agar tak jatuh di jurang yang sama. Hari ini aku lebih baik
daripada hari kemarin. Ya. Aku tahu. Aku adalah orang yang paling beruntung dan
bahagia. Persis seperti harapanku saat aku mulai bangkit setelah aku terjatuh.
Aku tahu hidup
itu adalah anugerah. Dan aku tak mau menyia-nyiakannya. Itulah alasan kenapa
aku selalu ingin membuat hariku berharga.
Setiap
hari-hariku ku jalani sesempurna mungkin. Walaupun aku tahu bahwa tak selamanya
hidup kita selalu datar. Maksudku, yang posisinya di atas tetap di atas dan
yang posisinya di bawah tetap di bawah. Aku belajar menghadapi hidup saat ia
menghampiriku.
Aku sudah pernah mengatakan bahwa ‘Aku melihat hidupku seolah-olah aku sudah pernah mengalaminya.
Bagai parade pesta dan tarian yang tiada henti-hentinya. Selalu orang picik
yang sama dengan perkataan bodoh yang sama. Aku merasa berdiri di tepi sebuah
jurang besar. Tanpa seorangpun yang menarikku dari sana. Tak ada yang peduli
atau bahkan memperhatikan’ di Book of 2014 dan disini, Ma Journey on 2015, aku mengatakan
bahwa ‘kemarin aku sudah belajar dan hari ini aku lebih baik daripada hari
kemarin. Believe in me! I really did.’
Hal pertama yang ingin aku katakan tentang tahun ini:
People come and go. Silih berganti. Ada yang datang hanya unyuk
sekedar bertamu, singgah sebentar, tak butuh waktu lama karena mereka juga
perjalanan panjang. Tak masalah aku fikir. Tapi, ada juga yang memilih untuk
tinggal.
Kita bicara tentang orang yang datang hanya sekedar bertamu. Aku
bertemu banyak orang setiap hari tiap tahun. Dan itu membuatku banyak mengenal
orang-orang. Dan itu bagus. Semakin banyak kita mengenal orang-orang, kita
membuat dunia ini semakin kecil. Yes. Dunia itu kecil. Percayalah! Kita
akan bicara soal itu nanti.
Then, let’s talk about, orang yang datang hanya sekedar bertamu. Bertamu? Apakah itu sama halnya dengan
mengunjungi rumah orang-orang?Yes. Bedanya, kita bertemu dengan banyak
orang diluar sama dengan wajah yang berbeda-beda, penampilan, karakter, dan
impian juga. Dari sekian banyak yang kita jumpai, ada saja satu dua orang yang
ingin sekali berbuat ramah kepada kita dan mengatakan ‘ahoy!’, ‘hi!’, atau
bahkan ‘what’s up?’-kata terakhir sepertinya terlalu gaul. But, it’s okay. Cuma
sekedar contoh- secara tidak sengaja, dia telah masuk dalam kehidupan kita.
Jika ia mengatakan namanya, berarti ia telah menuliskan namanya dalam cerita
hidupmu. Jika tidak, dia orang misterius yang baik. Orang seperti itu
seringkali hanya bisa mengatakan ‘hi!’ lalu terlibat nostalgia. Tapi tak jarang
juga mereka ada yang memilih untuk singgah dan mungkin kata ‘hi!’ adalah sebuah
tanda perkenalan baginya dan memang begitulah adanya.
Orang yang tidak sengaja bertemu memilih bertamu, dan kemudian
memilih untuk singgah. Seperti ikut mengisi hari-hari kita, mengenal kehidupan
kita, melihat impian kita, mendengarkan suara hari kita, dan masih banyak lagi.
Tetapi orang yang singgah ini terkadang pergi bukan tanpa alasan meski ada yang
begitu. Seperti jarak misalnya. Jarak membuat dua orang sulit sekali untuk
berkomunikasi. Untung saja ada telepon, ada social media yang bisa chatting, voicecall,
videocall, dan masih banyak lagi. Tapi ada alasan lain yang saling berhubungan
erat dengan jarak, yaitu waktu. Terkadang dia kesepian saat kita sibuk.semua
komunikasi diabaikan. Atau kitanya yang kesepian saat dia sibuk. Hanya saja
keberanian kadang tak betah berlama-lama dengan kita yang justru membutuhkannya
saat kita bimbang. Memilih dua hal yang sama sekali tidak kita sukai. Ditolak
karena dia tidak punya waktu atau diabaikan padahal ia punya waktu luang walau
tak banyak.
Ada yang pergi karena hati tak lagi punya alasan untuk bertahan.
Yang namanya manusia pastilah punya keburukan. Ada keburukan yang bisa diubah.
Tapi ada juga keburukan yang sulit sekali diubahnya. Tapi itu bukan berarti
tidak mungkin. Saat dia tahu siapa kita, ia berpaling. Tapi jarang sekali ada
yang memilih untuk tinggal.
Ada orang yang memilih untuk tertap tinggal bersama kita padahal
sungguh jelas ia tahu siapa kita. Seburuk apapun kita, dia berhasil menerima
kita apa adanya. Dia memeluk kita erat sekali. Tapi justru jangan takut jika
orang tak banyak orang yang bertahan disisimu karena ia tahu siapa kau
sebenarnya.
Saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa
itu bahagia atau tidak. Boleh jadi kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan.
Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang
tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kira sedang
menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar.
Justru kau berbangga hati mendapatkan orang dengan loyalitas
sehebat itu. Dan jika boleh aku mengatakan, ini hanyalah sebuah pendapat, bukan
sebuah promosi, ada buku yang menceritakan tentang sebuah kesetiaan. Belum ada
buku hebat yang pernah kubaca tentang kesetiaan seperti yang dilakukan oleh
tokoh utama dalam cerita itu. Buku itu berjudul Pulang, karya Tere Liye. Aku
selalu suka baca buku karya orang yang satu ini.
Okay. Hal kedua yang ingin aku katakan tentang tahun ini.
Think the Opposite and Stay Positive
Well, sebelumnya, sebelum kita benar-benar masuk ke pembahasan
ini, aku pengen kalian semua yang baca tulisanku ini tahu bahwa, aku sedang
berusaha untuk memotivasi kalian. Aku ingin kalian menjadi mengagumkan. Itu
saja. Sungguh. Aku ingin kalian tidak hanya sekedar pengikut, tapi kalian juga
pemikir, pelaku, pencipta, pemeran utama, atau mungkin kalian juga bisa menjadi
panutan bagi banyak orang.
Dan aku juga ingin sekali kalian melatih diri kalian sendiri.
Menyusun banyak rencana, membuat peta dalam pikiran kalian agar kalian tidak
tersesat. Tersesat dalam artian, akan tiba masanya saat kalian dengan tidak
sengaja melakukan sebuah kesalahan, melakukan sesuatu yang bodoh, orang-orang
disekitar anda menatap anda dengan tatapan tidak percaya, dan sesaat kalian
merasa seperti kalian menjadi orang-orang yang menatap diri kalian sendiri dan
bertanya-tanya, ‘aku siapa? Aku kenapa? Aku mengapa?’ apa yang harus aku
lakukan?’ seolah kalian tidak mengenal diri kalian sendiri saat itu.
Nah, sekalipun suatu saat nanti kalian tersesat, kalian tahu
harus kemana. Tidak akan salah dalam melangkah. Kalian hanya perlu mencari
tempat yang paling tinggi dan menuju kesana lalu kalian akan melihat jalan
keluar. Aku rasa itulah yang harus dilakukan bila kita tersesat dan orang-orang
juga melakukan yang sama, bukan? Dan satu lagi, perluaslah pikiranmu! Go travel
to the world or you just can read the books.
Ada satu hal kenapa aku menyuruh kalian melatih diri kalian,
yaitu agar kalian membangun kepribadian yang baik dan pemikiran yang matang.
Maksudku, adanya implementasi atau tindakan atau terapan dari apapun yang
kalian dapatkan dari ‘My Journal of 2015’ ini. Aku sih
berharap tulisanku bermanfaat. Semoga.
Kalau tidak adanya implementasi, well, tulisanku hanyalah akan
tetap menjadi sebuah teori.
Ibaratnya, aku memberikan kalian sebuah resep dan disana
tertulis ada bahan dan cara membuatnya. Jika hanya dibaca saja, resep itu tak
akan langsung berubah menjadi makanan lezat. Tapi juga harus ada proses disana.
Itulah alasan kenapa aku menyuruh kalian melatih diri dengan berfikir terbalik
dan tetap positif yang nanti akan kita bahas.
Dan setelah alasan terbesarku ini aku nyatakan, tidak akan ada
lagi diluar sana istilah kata, ‘hidup ini tak semudah ocehan Ryan Hidayat.’,
‘bicara memang mudah, tapi itu sulit sekali untuk melakukannnya.’
Tapi, aku ingat sekali John F. Kennedy, presiden termuda Amerika
Serikat pernah mengatakan dalam pidato pertama mengangkatan dirinya sebagai
presiden pada bulan Januari 1961, JFK tidak menjanjikan mampu menyelesaikan
permasalahan bangsanya dalam 100 hari, atau 1000 hari, atau bahkan selama masa
jabatannya, atau juga sampai dunia ini berakhir, ia menutup kalimat dengan
kenyakinan yang tak tergoyahkan, ‘…tapi, marilah kita memulainya’
Mulailah dari sekarang!
Dan satu hal lagi yang harus kalian tahu, meskipun aku berusaha
keras memotivasi kalian, aku sedang tidak menjadikan diriku seorang motivator.
Please, don’t call me that! Aku merasa tidak nyaman dipanggil dengan sebutan
itu. Karena, aku merasa aku juga sama seperti kalian yang masih membutuhkan
motivasi dari orang lain. Bukankah terlihat hebat saat kita saling memotivasi
satu sama lain?
Okay. Kembali ke pembahasan.
Think the Opposite and Stay Positive
Yakinlah bahwa setiap cerita pasti punya dua sisi. Ada sisi baik
dan ada pula sisi yang buruk. Aku melihat kehidupan ini dari beberapa cara
pandang yang berbeda. Dan sering kali aku melihat suatu hal dari cara pandang
seseorang ataupun kebanyakan orang. Misalkan saja jika ada orang lain yang
mengatakan bahwa bumi itu bulat, maka aku akan mengatakan bahwa bumi itu indah.
Keduanya tidak salah, karena keduanya memiliki cara pandang yang berbeda.
Tapi aku adalah tipikal orang yang tidak suka terikat. Kalau
misal orang lain mengatakan kalau bumi itu bulat dan aku mengatakan bumi itu
indah, orang lain tidak bisa mengubah cara pandangku bagaimanapun caranya. Tapi
dalam kasus ini aku tidak pula mengatakan kalau aku benar dan orang lain salah.
Karena aku juga sering melihat dari cara pandang orang lain hanya untuk sekedar
membandingkan ataupun mempertimbangkan, apakah kedua pendapat itu berhubungan
atau kedua pernyataan itu adalah fakta, maka aku bisa saja menerimanya.
Aku bakal kasih contoh.
"Jangan berkecil hati jika orang lain hanya mengingat kita saat butuh pertolongan, dan cuek bebek jika tidak, seolah tidak kenal lagi. Karena dengan demikian, sebenarnya malah keren, kita dianggap seseorang yg amat penting dalam hidupnya." – Tere Liye
Mungkin terdengar lumrah jika ada seorang teman yang datang,
yang mengingat kita saat butuh pertolongan dan cuek bebek jika tidak.
Sebenarnya jika dilihat dari sisi positifnya, -menurutku- kita malah terlihat
keren. Karena saat kita butuh pertolongan, kita tidak bisa mengandalkan orang yang
membuat kita gagal untuk mencapai suatu hal. Right?
Saat kita butuh pertologan, kita malah mencari orang yang bisa
kita andalkan, yang terpercaya, yang bisa melakukan sesuatu yang tidak banyak
orang bisa melakukannya.
Nah, think the opposite and stay positive aja :)
"Masukkan satu apel busuk ke satu keranjang buah. Maka akan cepat sekali, ikut busuk buah2 lainnya. Hei, lantas kenapa orang membiarkan satu pikiran negatif melintas dan masuk ke dalam hatinya? Padahal itu juga bisa merusak satu hari yang indah, bahkan berminggu2 waktu yang seharusnya menyenangkan? Segera buang!" – Tere Liye
I told you, aku suka banget sama orang ini.
Kalo kamu, udah berusaha berpikiran positif, segeralah buang
pikiran negatifmu itu. Sekarang aku lagi berusaha untuk mengisi kepalaku dengan
hal-hal yang positif. Maksudku, hal-hal yang aku benci -misalnya menunggu-
sering kali terjadi secara berulang-ulang walaupun bukan pada orang yang sama.
Tapi aku merasa aku telah menyia-nyiakan waktuku untuk hal yang tidak berguna.
Aku berusaha untuk berpikiran positif dan "selagi aku menunggu, lebih baik aku
menulis atau membaca –jika saat itu aku bawa buku-", pikirku.
Itu lebih berguna. Aku merasa sewaktu orang-orang membuat aku
menunggu, aku diberikan waktu olehnya untuk diriku sendiri.
Tapi, aku juga tidak berusaha munafik disini karena terkadang
saat aku menunggu aku melakukan hal yang tidak ada gunanya. Dan, jangan lihat
siapa yang berbicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan.
Intinya, saat orang-orang membuatmu menunggu, buatlah waktu
tunggumu, waktu penemuanmu.
As my promised, i'll tell you guys kenapa aku bilang
kalau dunia itu kecil. Kebanyakan orang diluar sana mungkin akan mengatakan,
bagaimana mungkin Ryan Hidayat mengatakan bahwa dunia itu kecil padahal sudah
jelas bahwa dunia itu luas dan besar. Yang kita bicarakan bukan soal rumus
matematika yang menyebutkan 4#r2 adalah rumus dari luas bola. Yang kita
bicarakan adalah bagaimana cara kita melihat.
Dunia itu kecil. Tapi bukan berarti tidak luas.
Lihatlah betapa banyak gambar peta dunia yang ada di buku- buku, di
perpustakaan, di museum, dan dari semua gambar peta dunia itu pasti sama.
Kenapa? Karena berterimakasihlah kepada ahli geografi yang paling bersahaja
dalam pembuatan peta, Gerardus Mercator de Rupelmonde.
Tapi untuk sekarang kita tidak bicara tentang
siapa gerangan Gerardus Mercator de Rupelmonde ini? Bagaimana latar
belakangnya? Sudah berapa banyak penghargaan yang pernah diraihnya? Atau apa
makanan kesukaannya? Dimana cafe tempat tongkrongannya dia? Berapa banyak
pasang sepatunya? Atau bahkan siapa anak paling kece menurut dia? Bukan!
Kita fokus ke topik.
Dunia itu kecil. Tapi bukan berarti tidak luas.
Malah sekarang kita juga bisa menggambar peta seolah-olah kita tahu persis
bagaimana bentuk benua Eropa dan benua-benua lainnya. Aku pernah baca
peribahasa yang berasal dari Denmark yang isinya seperti ini
"The road of a friend's house is never long" - Perjalanan ke rumah seorang teman tidak pernah jauh.
Dan masih ingat nggak sih di awal aku bilang 'go
travel to the world or you just can read the books' dan 'semakin banyak kita
mengenal orang-orang, kita membuat dunia ini semakin kecil.
Okay. Aku bakal kasih tahu hubungan dari kedua
kalimat ini.
Go travel to the world dan jelas sekali kalau
pergi ke suatu tempat dan kita menjelajah di tempat itu, suatu saat jika ada
orang yang bertanya apakah kita pernah kesana, kita bisa menjelaskan kepadanya
seolah-olah kita adalah seorang pemandu wisata dengan pengetahuannya yang
sangat luas tentang tempat itu. Seolah-olah tempat itu dirasanya seperti hanya
seujung jari kelingkingnya saja. Well, it's the miracle of the travel.
Read the books. Jaman sekarang, siapa sih yang
nggak tahu bahwa buku adalah jendela dunia? Walaupun buku sudah bergeser
posisinya dan digantikan oleh internet dengan trend teknologinya, e-book. Tapi
buku tetap tinggi levelnya. Jika kita banyak membaca, kita akan banyak tahu.
'Semakin merasa tahu banyak hal, semakin kita
tidak tahu apa-apa' - Socrates, Filsuf Yunani.
Aku kurang tahu arti dari qoute yang satu ini.
Tapi kalau ditanya pendapatku, menurutku, jika kita mengetahui satu hal, berarti
kita tidak tahu hal itu. Maksudnya, masih ada bagian dari hal itu yang mesti
kita tahu atau cuma sekedar tahu. Kita hanya tahu bagian luarnya saja. Misal,
pizza itu enak. Tapi kita tidak tahu kenapa bisa enak, apa bahannya, apa
bumbunya, bagaimana cara memasaknya, dan masih banyak lagi hal yang tidak kita
ketahui tentang pizza kecuali 'enak'. Dan semakin kita banyak membaca, kita
jadi semakin banyak tahu. Kita bisa saja travel keliling dunia dengan modal
nekat dengan menjelajahi suatu tempat dan dengan tambahan sebuah buku yang
berhubungan dengan tempat itu, mungkin kita tidak hanya sekedar tahu bagaimana
keadaan tempat itu, bagaimana cuacanya, tapi kita juga bisa tahu bagaimana
sejarahnya, siapa saja penghuni tempat itu yang tentu lebih mengetahui bagaimana
perubahan tempat itu dari waktu ke waktu.
Dan yang terakhir, semakin kita mengenal banyak
orang-orang, kita membuat dunia ini semakin kecil. Nah, ini dia.
Semakin kita mengenal banyak orang, kita memiliki
banyak teman, kita akan merasa ujung dunia hanya dipisah oleh selembar kabut.
Kita hanya perlu melewatinya agar tampak jelas telihat senyum manis di bibir
mereka. Ingat? Perjalanan ke rumah
seorang teman tidak pernah jauh.
Bayangkan seandainya jika kita punya –minimal-
satu teman di setiap Negara yang ada di dunia. What’s happen kalo kita punya
teman di setiap kota yang ada di setiap Negara yang ada di dunia? Mungkin kamu
bakalan seperti Sir Francis Haddock dari Marlinspike Hall di film The Adventure
of Tin Tin yang mengenal lautan seperti punggung tangannya, orang yang bisa
melihat globe.
See? Dunia itu kecil.
Dan, sebenarnya masih banyak hal yang mesti aku
sampaikan. Nggak mesti sih, tapi aku sudah merasa itu adalah kewajiban. Ilmu
harus dibagi.
Ditahun ini, aku perkirakan, blogku bakal diisi
sama isi kepalaku. Maksudku selain karya –puisi atau sejenisnya-.
What’s
happen inside his head?
You’ll see!!!
Okay. Aku harap dari semua yang telah aku katakan
disini, kalian punya sesuatu yang bisa dijadikan sesuatu. Entah itu, yah aku
tidak tahu, prinsip mungkin atau sejenisnya. Dan aku merasa terhormat sekali
jika ada.
Terima kasih buat kalian semua yang udah baca.
Dan aku suka jika kalian juga suka sama tulisanku. Sebab, kalau bukan karena kalian,
mungkin tulisanku hanya sebuah file yang abadi tersimpan di draft folder
komputerku.
Thanks again.
0 comment(s)